news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Sumber :
  • tvOnenews/ Abdul Gani Siregar

Menkeu Purbaya: Defisit Bukan Kegagalan, tapi Strategi Balikkan Arah Ekonomi Nasional

Pernyataan itu disampaikan Purbaya merespons kritik publik yang ramai beredar di media sosial terkait defisit APBN, yang kerap dituding sebagai bukti kegagalan kebijakan ekonomi pemerintah.
Selasa, 27 Januari 2026 - 14:00 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pelebaran defisit anggaran yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir bukanlah cerminan lemahnya pengelolaan fiskal, melainkan bagian dari strategi sadar pemerintah untuk membalikkan arah ekonomi nasional yang sempat tertekan.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya merespons kritik publik yang ramai beredar di media sosial terkait defisit APBN, yang kerap dituding sebagai bukti kegagalan kebijakan ekonomi pemerintah.

“Itu kan ada yang banyak, saya banyak juga baca di TikTok tuh yang protes-protes. Lu, defisitnya gede lu, gini-gini nggak becus. Enggak, itu emang strategi untuk membalik arah ekonomi,” ujar Purbaya usai sambutan di Tirto Indonesia Fiskal Forum, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026).

Purbaya menjelaskan, pemerintah sengaja mengerahkan seluruh instrumen fiskal yang tersedia untuk menghentikan tren pelemahan ekonomi. Menurutnya, sikap pasif justru berisiko membuat ekonomi terus meluncur ke bawah tanpa daya dorong nyata.

“Kita harus memberikan semua instrumen yang ada di kita untuk membalik arah ekonomi supaya nggak terus-terus turun-terus ke bawah,” katanya.

Ia mencontohkan, pemerintah secara sengaja menggelontorkan stimulus besar, termasuk alokasi dana ratusan triliun rupiah yang dikelola perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), agar dampak kebijakan benar-benar dirasakan masyarakat dan pelaku usaha.

“Kan saya ngomong, kasih Rp200 triliun (untuk dikelola Bank Himbara) ekonomi akan bagus. Kalau diam aja, orang nggak ngerasa. Karena mereka terus memburuk ke bawah,” ujarnya.

Selain stimulus perbankan, pemerintah juga mendorong belanja sosial dan program penopang daya beli secara agresif. Berbagai skema bantuan seperti BLT, BLTS, program magang, hingga belanja kementerian dan lembaga dipacu untuk menopang aktivitas ekonomi.

“Jadi saya kasih itu, kita kasih pemerintahan memberi BLT, BLTS, program-program magang, dan lain-lain yang kita habiskan di ruang keempat tahun lalu,” lanjut Purbaya.

Ia menegaskan, dorongan belanja tersebut memang memiliki konsekuensi berupa defisit yang melebar. Namun, biaya itu dinilai perlu dibayar untuk mengubah arah ekonomi agar kembali tumbuh.

“Dan anggaran kementerian lembaga juga kita dorong untuk tumbuh se-optimal mungkin. Kalau nggak ada itu, ya kita cuma ngomong tapi ekonomi terus ke bawah. Itu cost yang harus kita bayar untuk membalikkan arah ekonomi,” katanya.

Meski demikian, Purbaya menekankan bahwa strategi ekspansif tersebut tetap dijalankan dengan menjaga keberlanjutan fiskal sebagai pijakan utama kebijakan anggaran.

“Tapi yang penting kan fiscal sustainability-nya kita jaga terus,” tegasnya.

Menjawab pertanyaan terkait prospek defisit pada 2026, Purbaya mengakui bahwa tekanan defisit masih akan terasa. Namun, ia memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah korektif untuk memperkuat sisi penerimaan negara.

“Oh defisitnya akan ada terus mungkin tahun ini, masih ada kalau kita lihat anggarannya. Tapi saya akan lihat, saya akan sedang perbaiki biaya cukai dan pajak,” ujarnya.

Ia menegaskan pembenahan sektor pajak dan bea cukai akan dilakukan secara serius dalam waktu dekat, termasuk langkah drastis untuk menutup kebocoran penerimaan negara.

“Ini serius, besok di obrak abrik tuh salah satu. Itu harusnya akan memperbaiki cara kerja pajak dan bea cukai dan harusnya yang bocor-bocor itu nggak akan terjadi lagi,” pungkas Purbaya. (agr)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:44
03:26
01:32
06:03
01:24
05:06

Viral