news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir.
Sumber :
  • Sri Cahyani Putri/tvOne

Pesan Ketum PP Muhammadiyah soal Perbedaan Awal Puasa Ramadhan: Sikapi dengan Cerdas dan Tasamuh

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir ajak umat Islam menyikapi perbedaan penetapan awal puasa dengan cerdas dan penuh tasamuh atau toleransi.
Selasa, 17 Februari 2026 - 18:05 WIB
Reporter:
Editor :

Yogyakarta, tvOnenews.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak umat Islam menyikapi perbedaan penetapan awal puasa dengan cerdas dan penuh tasamuh atau toleransi.

Menurut Haedar, perbedaan dalam menentukan awal Ramadhan 1447 Hijriah merupakan hal yang wajar. 

Hal ini terjadi karena umat Islam selama ini belum memiliki satu kalender global yang disepakati bersama.

Oleh sebab itu, Haedar meminta supaya di tengah perbedaan itu umat Islam menyikapinya dengan cerdas dan tasamuh.

"Kita (umat Islam) tidak perlu saling menyalahkan dan merasa benar sendiri. Sikapi dengan kecerdasan, tasamuh serta kedewasaan bersama dalam perbedaan ini," ucap Haedar, Selasa (17/2/2026).

Menurutnya, perbedaan harus disikapi dengan arif  bijaksana. Terlebih, puasa itu tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan takwa, baik peningkatan takwa untuk pribadi maupun kolektif. 

Melalui peningkatan takwa kepada Allah, Haedar berharap, hubungan atau relasi sosial kemasyarakatan juga semakin baik. 

Berbekal kecerdasan dan keimanan, umat Islam akan meraih ketakwaan dan meningkat derajat kemuliaannya. 

Haedar juga berpesan supaya puasa Ramadhan 1447 H dapat dijalankan umat Islam dengan tenang, damai, penuh kematangan, dan tidak terganggu oleh hiruk pikuk kehidupan termasuk perbedaan awal Ramadan.

“Dalam konteks yang lebih luas, Ramadhan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan menebar segala kebaikan yang makin luas,” pesan Haedar.

Selain itu, umat Islam harus jadi perekat sosial. Puasa melatih untuk tahan diri di saat ada pihak yang mengajak berperang, berkonflik dan bertengkar.

Terlebih, di era media sosial yang selalu memancing hasrat muslim untuk melampiaskan amarah, kebencian, dan perselisihan, maka puasa seharusnya menjadi tameng untuk menangkal dan menahan hawa nafsu agar tidak lepas diri.

“Dengan berbagai macam informasi, postingan, yang kira-kira memberi suasana panas dalam kehidupan sosial kebangsaan kita. Maka puasa harus menjadi kanopi sosial kita,” katanya.

Terakhir, Haedar juga berpesan supaya puasa Ramadhan menjadi waktu untuk mencapai kemajuan hidup. (scp/muu)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

06:24
01:11
03:11
07:15
06:13
15:24

Viral