news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Suasana pelaksanaan Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napak Tilas Pajajaran di Kota Cirebon, Jawa Barat, Minggu (11/5)..
Sumber :
  • Antara

Dedi Mulyadi Sebut Cirebon "Mini Pluralisme Indonesia": Ajarkan Tentang Islam Inklusif

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa sejarah bukanlah sekadar cerita usang yang harus ditinggalkan. 
Senin, 11 Mei 2026 - 04:25 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa sejarah bukanlah sekadar cerita usang yang harus ditinggalkan. 

Saat menghadiri Kirab Budaya Mahkota Binokasih Napak Tilas Pajajaran di Alun-alun Sangkala Buana Keraton Kasepuhan Cirebon, ia menekankan pentingnya menyelaraskan akar tradisi dengan visi kemajuan di masa depan.

Dalam sambutannya pada Minggu (10/5) malam tersebut, Dedi mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan filosofi leluhur saat menatap hari esok. Baginya, acara budaya ini memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar seremoni.

“Yang paling utama bukan untuk membangun cerita masa lalu, tetapi membangun jembatan masa lalu dan masa depan,” ujar Dedi.

Ia menilai karakter bangsa tidak akan kuat jika tercerabut dari akarnya. Sejarah, menurut Dedi, adalah instrumen penting untuk membekali masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

“Maka kegiatan ini bukan kegiatan seremonial, bukan kegiatan historikal tapi kegiatan masa depan,” tegasnya.

Dedi juga meyakinkan publik bahwa kebesaran Pajajaran masih tetap hidup hingga detik ini. 

Kehadiran benda pusaka seperti Mahkota Binokasih serta berbagai situs sejarah yang tersebar di Jawa Barat menjadi bukti otentik yang tidak bisa terbantahkan.

“Pajajaran itu memang ada dan tidak akan pernah pudar dimakan oleh zaman,” katanya.

Kota Cirebon secara khusus mendapat pujian dari sang Gubernur. Dedi Mulyadi melihat Cirebon sebagai daerah yang sukses mengawinkan nilai-nilai religi, budaya, dan sejarah secara damai. 

Keberadaan peninggalan, seperti Masjid Agung Sang Cipta Rasa hingga keunikan tradisi Adzan Pitu menjadi simbol keterbukaan masyarakat Cirebon sejak zaman para wali.

“Cirebon sesungguhnya adalah mini pluralisme Indonesia. Kalau dalam bahasanya para pakar, Cirebon mengajarkan tentang Islam inklusif,” puji Dedi.

Menatap masa depan, Dedi Mulyadi telah mengantongi rencana besar untuk merevitalisasi kawasan budaya di sekitar keraton-keraton Cirebon. 

Ia memimpikan sebuah peradaban yang bersih dan tertata, di mana infrastruktur modern bertemu dengan keasrian alam dan kemegahan sejarah.

“Kalau keraton ini tertata rapi, jalan-jalannya bersih, trotoarnya terbentang indah, sungai-sungainya jernih, kemudian antara sungai dengan keraton tersambung lagi dengan laut maka peradaban akan terbangun,” ujarnya. (ant/dpi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:02
02:11
01:30
05:41
02:16
05:19

Viral