news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa..
Sumber :
  • tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar

Rupiah Terguncang, Purbaya Pilih Bentengi Pasar Obligasi: Kami Enggak Masuk ke Pasar Dolar Langsung

Purbaya menegaskan, Kementerian Keuangan saat ini mengarahkan energi penuh untuk menjaga ketahanan pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Kamis, 14 Mei 2026 - 09:24 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan, strategi pemerintah menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang terus bergerak di tengah gejolak pasar global.

Alih-alih melakukan intervensi langsung ke pasar valuta asing, pemerintah memilih fokus menjaga stabilitas pasar obligasi negara guna menahan arus keluar modal asing.

Purbaya menegaskan, Kementerian Keuangan saat ini mengarahkan energi penuh untuk menjaga ketahanan pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Menurutnya, kestabilan pasar obligasi menjadi kunci agar investor asing tidak panik dan melepas aset secara besar-besaran yang berpotensi memperparah tekanan terhadap rupiah.

“Itu kan perlu waktu. Kita kan enggak masuk ke pasar dolar langsung. Tapi kita hanya menjaga stabilitas bond market,” ujar Purbaya di Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, dikutip Kamis (14/5/2026).

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu mengungkapkan, kondisi pasar obligasi mulai menunjukkan sinyal pemulihan. Investor asing disebut perlahan kembali masuk ke pasar SBN setelah sempat terjadi tekanan di pasar keuangan domestik.

“Asing juga masuk sih. Ini kayaknya bond-nya sudah mulai stabil lagi. Dan kita lihat ke depan seperti apa. Tapi yang jelas kita monitor kondisi di pasar bond sekarang,” tutur dia.

Saat ditanya mengenai langkah konkret pemerintah, termasuk kemungkinan pembelian kembali obligasi negara atau buyback SBN, Purbaya sempat melontarkan candaan yang memancing perhatian.

“Pakai doa lah,” kelakar Purbaya.

Meski berseloroh, ia memastikan pemerintah tetap bergerak serius. Purbaya mengaku telah menginstruksikan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) untuk terus menjalankan langkah stabilisasi demi menjaga kepercayaan pasar.

“Nanti saya sudah perintahkan mereka untuk ini. Tapi melakukan tindakan, nanti saya lihat hasilnya seperti apa. Ini akan continue ke depan. Mungkin beberapa bulan ke depan berjalan-jalan seperti ini,” katanya.

Purbaya juga mengungkap pemerintah telah mengaktifkan mekanisme Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menopang pasar obligasi domestik. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi tekanan capital outflow yang selama ini membayangi rupiah.

“Kami ada masuk ke stabilized bond market. Kalau bond market stabil orang itu enggak jual, mereka enggak takut dengan capital loss, yang keluar juga akan berkurang,” ungkapnya.

Menurut dia, ketika harga obligasi menguat, investor bukan hanya menikmati imbal hasil kupon, tetapi juga memperoleh peluang capital gain. Kondisi itu diyakini mampu menjaga minat investor asing tetap bertahan di pasar keuangan Indonesia.

“Kalau nanti bond-nya menguat, kan ada potensi capital gain. Selain itu mereka juga dapat capital gain, biasanya mereka berkurang (keluar). Kami akan jaga stabilized bond market, membantu bank sentral,” jelas Purbaya.

Di tengah tekanan kurs rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.500 per dolar AS, Purbaya memastikan kondisi fiskal pemerintah masih aman, termasuk untuk menopang subsidi energi.

Ia menegaskan asumsi APBN sebelumnya sudah memperhitungkan skenario harga minyak tinggi dan pelemahan rupiah.

“Waktu kami hitung kemarin, harga minyak US$120 per barel, ya rupiah dekat-dekat situ jadi enggak ada masalah. Saya enggak harus hitung ulang,” tandas Purbaya. (agr)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

07:35
06:21
06:22
05:04
06:04
02:54

Viral