- dok. Kementerian ESDM
Peringatan untuk Warga Sumsel, Musim Kemarau Puncaknya di Agustus 2026
Jakarta, tvOnenews.com- Bagi warga Sumatra Selatan (Sumsel) perlu berhati-hati karena BMKG telah memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026.
Dalam keterangannya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan kalau puncak musim kemarau di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terjadi pada Agustus hingga September 2026.
Maka masyarakat pun diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
- Antara
Seperti kabar sebelumnya, musim kemarau 2026 ini diprediksi lebih panjang dan kering. Sebab adanya anomali atau penyimpangan suhu muka laut global yang terjadi secara tidak teratur, atau disebut fenomena El Nino.
Menurut Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis di Palembang, Jumat, mengatakan fenomena El Nino saat ini telah berada pada kategori kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat.
Menurutnya, fenomena El Nino saat ini sudah aktif pada level kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Namun berdasarkan analisis BMKG, kemarau tahun ini diprakirakan tidak sekering tahun 1997 maupun 2015.
- Antara
"Kemarau diperkirakan berlangsung sampai pertengahan Oktober. Hujan masih mungkin terjadi, tetapi intensitasnya rendah sehingga belum efektif menghentikan kemunculan hotspot," ujarnya, dalam antara, Sabtu (1/8).
Sehubugan dengan musim kemarau, sejauh ini wilayah Sumsel kondisinya kering terlihat dari data Hari Tanpa Hujan (HTH). Saat ini terdapat beberapa wilayah yang telah mengalami HTH lebih dari 40 hari.
Secara umum sebagian besar wilayah Sumsel mencatat HTH selama enam hingga 10 hari. Kondisi tersebut dipengaruhi hujan yang terjadi pada 19-30 Juli 2026 sebagai dampak pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
"Sempat terjadi hujan pada akhir Juli, sehingga rangkaian HTH di banyak wilayah terputus. Karena itu sebagian besar HTH saat ini berada pada kisaran 6-10 hari, meski masih ada beberapa wilayah yang sudah lebih dari 40 HTH," jelasnya.
Dengan kondisi ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan Juli 2026 masih didominasi curah hujan di bawah normal, sehingga potensi kekeringan dan karhutla perlu tetap diwaspadai.
"Karena itu masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama saat memasuki puncak musim kemarau pada Agustus dan September," jelas Wandayantolis.
Mengenal El Nino
Sebagai tambahan informasi, El Nino merupakan fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.
El Nino memiliki dampak yang beragam dalam lingkup skala global. Beberapa negara di kawasan Amerika Latin seperti Peru, saat terjadi El Nino akan berdampak pada meningkatnya curah hujan di wilayah tersebut.
Sedangkan di Indonesia secara umum dampak dari El Nino adalah kondisi kering dan berkurangnya curah hujan.(klw)