- Instagram @ketutasta27
PB IDI Dorong Pemulihan Layanan Kesehatan Pasca Gempa Bumi NTT
Jakarta, tvOnenews.com - Bencana gempa bumi melanda mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026).
Berbagai pihak pun turut menyampaikan rasa duka terhadap bencana alam yang terjadi tersebut diantaranya Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI).
Kabid Humas PB IDI, Cashtry Meher mendorong percepatan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak terutama di wilayah yang fasilitas kesehatannya mengalami kerusakan.
Ia menekankan penanganan korban tidak boleh berhenti pada evakuasi, tetapi harus dilanjutkan dengan memastikan korban memperoleh pelayanan medis dan akses rujukan.
“Menyelamatkan seseorang dari reruntuhan adalah pertolongan pertama. Setelah itu, kita harus memastikan nyawanya tidak kembali terancam karena terlambat mendapatkan layanan kesehatan,” kata Cashtry kepada awak media, Jakarta, Minggu (16/8/2026).
Cashtry menjelaskan saat ini RSUD Nagekeo Aeramo dan RSUD Ruteng tidak dapat beroperasi, sementara sejumlah puskesmas di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Sikka, Ende, Manggarai Barat, dan Nagekeo juga mengalami gangguan hingga tidak dapat memberikan pelayanan secara optimal usai pihaknya berkoodinasi dengan wilayah terdampak.
Kondisi tersebut, kata Cashtry, membuat kebutuhan evakuasi dan rujukan pasien menjadi sangat mendesak.
“Kita menghadapi situasi yang serius, masyarakat membutuhkan layanan kesehatan justru ketika sebagian fasilitas yang memberikan layanan itu ikut terdampak. Karena itu, memastikan pelayanan medis tetap berjalan harus menjadi bagian dari penyelamatan nyawa,” kata Cashtry.
Menurutnya, kebutuhan mendesak saat ini antara lain ambulans untuk evakuasi pasien dari Nagekeo dan Ruteng menuju fasilitas rujukan yang masih berfungsi, serta dukungan komunikasi untuk menjaga koordinasi pelayanan kesehatan di wilayah terdampak.
Tak hanya itu, Cashtry menyebut jarak turut menjadi tantangan tersendiri mengingat perjalanan darat dari Labuan Bajo menuju Nagekeo membutuhkan waktu sekitar tujuh jam sedangkan menuju Ruteng sekitar tiga jam.
“Dalam kondisi kegawatdaruratan, waktu tempuh bukan sekadar persoalan jarak. Setiap menit bisa menentukan keselamatan pasien. Karena itu, sistem evakuasi dan rujukan harus dipastikan berjalan,” ujarnya.
PB IDI juga mendorong penguatan kembali fasilitas kesehatan yang terdampak.
Cashtry menekankan bahwa pemulihan layanan kesehatan harus memprioritaskan kebutuhan medis yang paling mendesak terutama penanganan trauma, layanan ibu dan anak, serta hemodialisis.
“Kita tidak bisa menunggu seluruh bangunan diperbaiki baru pelayanan kesehatan berjalan. Kalau fasilitas utama terdampak, pelayanan harus tetap hidup melalui sistem rujukan, fasilitas sementara, ambulans, dan mobilisasi tenaga kesehatan,” jelasnya.
Selain layanan medis, Cashtry mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan kelompok rentan, termasuk anak-anak, ibu hamil, lansia, penyandang disabilitas, serta pasien penyakit kronis yang membutuhkan pengobatan rutin.
Ia juga meminta masyarakat mengandalkan informasi resmi dari BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
“Dalam keadaan panik, informasi yang benar juga merupakan bentuk pertolongan. Jangan sampai masyarakat menghadapi bencana fisik sekaligus bencana informasi,” jelasnya.
Cashtry menegaskan PB IDI mendukung penuh koordinasi dan mobilisasi tenaga medis sesuai kebutuhan penanganan bencana.
“Para dokter dan tenaga kesehatan akan terus berdiri di sisi kemanusiaan. Bagi kami, menyelamatkan satu nyawa bukan sekadar tugas profesi. Itu adalah panggilan kemanusiaan,” pungkasnya.(raa)