- ist
Ibas Dorong Kerja Sama Indonesia-Australia dalam Pengembangan Museum dan Galeri Seni
Selain pengelolaan koleksi, Ibas menekankan pentingnya skema pendanaan yang berkelanjutan bagi museum di Indonesia. Menurutnya, kebutuhan anggaran tidak hanya muncul ketika pembangunan fasilitas dilakukan, tetapi juga mencakup pemeliharaan, penelitian, keamanan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Ia menilai pembiayaan museum perlu dirancang untuk kebutuhan jangka panjang agar kegiatan pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada program sementara. Dukungan pemerintah, kemitraan dengan sektor swasta, serta kerja sama dengan lembaga kebudayaan menjadi sejumlah opsi yang dapat dipertimbangkan.
Di sisi lain, Ibas juga menyoroti perlunya penguatan regulasi untuk memberikan kepastian dalam pengelolaan dan perlindungan koleksi. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan museum di berbagai daerah yang memiliki karakteristik dan kapasitas berbeda.
Dalam pembahasan itu, Ibas turut menyinggung Museum dan Galeri Seni SBY*ANI di Pacitan, Jawa Timur, yang didirikan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Ia menjadikan museum tersebut sebagai salah satu contoh ruang yang memadukan dokumentasi sejarah, karya seni, dan perjalanan kehidupan tokoh.
Menurutnya, setiap museum memiliki karakter dan nilai sejarah masing-masing, terlepas dari ukuran bangunan maupun jumlah koleksi. Karena itu, pengelolaan museum juga perlu memperhatikan cerita dan informasi yang disampaikan kepada pengunjung.
Perhatian lainnya adalah pemanfaatan teknologi untuk menjangkau masyarakat, khususnya generasi muda. Ibas memandang digitalisasi koleksi, pameran virtual, dan materi pembelajaran interaktif dapat membantu meningkatkan akses terhadap informasi sejarah dan kebudayaan.
Meski demikian, penggunaan teknologi dinilai perlu diimbangi dengan penguatan literasi seni. Pengunjung tidak hanya diperkenalkan pada bentuk sebuah karya, tetapi juga sejarah, teknik pembuatan, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Collection Management & Art Services National Gallery of Australia, Dr. Renée Joyce, menjelaskan bahwa institusinya mengelola sekitar 155.000 karya seni. Koleksi tersebut berasal dari Australia serta sejumlah kawasan dunia, termasuk Asia-Pasifik.
“The collection is owned by the people of Australia. We see ourselves as the custodians of it,” ujar Renée.
Renée menjelaskan bahwa koleksi tersebut merupakan milik masyarakat Australia, sedangkan pihak galeri bertanggung jawab menjaga dan melestarikannya. Ia juga menekankan pentingnya kerja sama internasional untuk mendukung pertukaran pengetahuan dan pengembangan pengelolaan museum.