- ist
Investasi Korea Selatan di Batam Melonjak 34 Kali Lipat, Sektor Ini Jadi Penyumbang Terbesar
Jakarta, tvOnenews.com - Realisasi investasi Korea Selatan di Batam mencapai Rp1,175 triliun atau sekitar USD65,1 juta sepanjang semester I 2026. Sebagian besar investasi tersebut terkonsentrasi pada sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi.
Berdasarkan data Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI, angka tersebut meningkat 34,1 kali lipat dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang sebesar Rp34,41 miliar. Sementara itu, jika dibandingkan dengan semester I 2025, pertumbuhannya mencapai 4.169,8 persen.
Dengan realisasi tersebut, Korea Selatan menempati urutan ketiga sebagai negara asal penanaman modal asing terbesar di Batam. Kontribusinya tercatat sebesar 6,60 persen dari total investasi asing yang masuk ke wilayah tersebut.
Peningkatan investasi juga diikuti perubahan komposisi sektor usaha yang menerima modal dari Korea Selatan. Pada 2025, investasi masih tersebar di sejumlah sektor, antara lain perikanan, alat transportasi, mesin, elektronik, kimia, dan farmasi.
Namun, sepanjang semester I 2026, sekitar Rp1,170 triliun atau 99,6 persen investasi Korea Selatan terkonsentrasi di sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi. Sebagian besar realisasi tersebut berkaitan dengan investasi melalui PT Bandara Internasional Batam.
Di tengah peningkatan investasi itu, Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) melakukan kunjungan kerja ke Korea Selatan pada 20–24 Oktober 2026. Agenda tersebut mencakup keikutsertaan dalam South Korea Aero Summit 2026 serta pertemuan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul.
Delegasi BP Batam terdiri atas Anggota/Deputi Bidang Investasi Fary Djemy Francis, Anggota/Deputi Bidang Administrasi dan Keuangan Alexander Zulkarnain, serta Direktur Badan Usaha Kawasan Bandara Kurnia Budi.
Dalam South Korea Aero Summit yang berlangsung pada 21–22 Oktober 2026, Fary menjadi salah satu pembicara. Ia memaparkan rencana pengembangan sektor penerbangan, termasuk industri perawatan dan perbaikan pesawat atau *maintenance, repair, and overhaul* (MRO), kargo udara, serta industri pendukung Bandara Internasional Hang Nadim.
“Landasan pacu harus menjadi landasan tumbuhnya investasi dan kesejahteraan,” ujar Fary.
Menurutnya, pengembangan Bandara Hang Nadim perlu diintegrasikan dengan kawasan industri dan jaringan rantai pasok global. Selain pembangunan infrastruktur, kepastian regulasi dan kemudahan berusaha dinilai menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk menarik investasi.