- Anadolu
Blokade Selat Hormuz, Perang Terselubung AS Vs China
China saat ini benar-benar berada dalam posisi yang sulit. Jalur Sutra darat yang melewati Iran menuju Eropa kini terblokir. Jalur Sutra laut yang melalui Selat Malaka sepenuhnya berada di bawah bayang-bayang armada AS. Sementara rute alternatif melalui Rusia pun terganggu oleh perang Ukraina yang masih berkepanjangan. China tidak memiliki pilihan mudah. Kekuatan ekonomi mereka memang besar, tetapi pengaruh politik dan militer di Timur Tengah tidak sebanding dengan AS yang memiliki pangkalan militer dan sekutu setia seperti Israel, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Akibatnya, Beijing hanya bisa mengeluarkan pernyataan protes diplomatik, sementara aset-aset strategis mereka di Iran terus diterjang. Ini adalah dilema klasik: menjadi negara kaya tanpa diikuti kekuatan militer yang sepadan di kawasan yang jauh dari rumah sendiri.
Pada titik inilah kekhawatiran saya yang paling dalam muncul. Blokade Hormuz bukan hanya masalah Timur Tengah. Ia adalah sebuah cermin dan pelajaran bagi China. Seperti yang ditulis oleh jurnal The Atlantic pada April 2026, Iran berhasil membuat AS mundur dari ancaman militer besar-besaran hanya dengan memblokade Selat Hormuz selama lima pekan. China, yang jeli membaca dinamika ini, tentu bertanya dalam hati: jika Taiwan yang memasok lebih dari sepertiga kebutuhan mikrochip dunia kita blokade, berapa lama AS akan bertahan?
Para pakar hubungan internasional telah memberikan peringatan yang tidak bisa kita abaikan. Dr. Robert Kelly dari Pusan National University di Korea Selatan menyatakan dengan tegas: "The pivot is dead. Either US allies in East Asia step up and do a lot more, or we need to start thinking about accommodating China's regional leadership." Artinya, strategi AS untuk memfokuskan diri di Asia Pasifik telah mati karena tersedot ke konflik di Iran dan Ukraina. Kawasan Indo-Pasifik kini tanpa pengawas utama.
Sementara itu, laporan dari CSIS (Center for Strategic and International Studies) yang dikutip oleh The Wall Street Journal menyebutkan bahwa dengan telah dihabiskannya lebih dari seribu rudal Tomahawk dan dua ribu interceptor selama perang dengan Iran, Amerika Serikat kemungkinan membutuhkan waktu satu hingga empat tahun untuk mengembalikan persediaan amunisinya ke tingkat sebelum perang. Dalam kurun waktu tersebut, kemampuan AS untuk merespons krisis di dua tempat secara bersamaan di Timur Tengah dan di Pasifik berada pada titik terendah dalam dua dekade terakhir.