- Anadolu
Blokade Selat Hormuz, Perang Terselubung AS Vs China
Kita tidak boleh bersikap seolah-olah ini adalah berita dari belahan dunia lain yang tidak ada kaitannya dengan kita. Dalam dunia yang saling terhubung seperti sekarang, tidak ada yang benar-benar jauh.
Saya menulis opini ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membuka mata kita bersama. Pengalaman saya dua tahun duduk di Dewan Keamanan PBB mengajarkan satu hal: konflik besar hampir tidak pernah dimulai dengan pengumuman resmi. Ia selalu dimulai dengan langkah-langkah kecil, dengan krisis yang dibiarkan, dengan resolusi yang diveto, dan dengan dunia yang memilih untuk melihat ke arah lain.
Blokade Selat Hormuz adalah peringatan dini. Perang terselubung antara AS dan China bukanlah konspirasi, melainkan pola yang dapat dibaca oleh siapa pun yang mau jujur melihat fakta. Dan ancaman bahwa Taiwan dapat menjadi "Hormuz berikutnya" adalah kemungkinan yang harus kita antisipasi, bukan kita abaikan.
Sudah saatnya Indonesia tidak lagi menjadi penonton yang pasif. Kita harus mulai menghitung secara cermat kepentingan nasional kita, memperkuat diplomasi kita di berbagai forum internasional, dan bersiap menghadapi dunia yang konektivitas ekonominya semakin rapuh. Pemerintah perlu melakukan langkah-langkah konkret: mendiversifikasi mitra dagang, membangun cadangan energi dan pangan yang lebih kuat, serta mempersiapkan skenario darurat untuk melindungi warga negara dan aset nasional di luar negeri.
Karena pada akhirnya, ketika dua raksasa bertarung di atas papan catur global, yang kecil biasanya terkena imbasnya terlebih dahulu. Dan Indonesia, dengan segala potensi dan kerentanannya, tidak ingin menjadi pion yang jatuh tanpa perlawanan. (rpi)