news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Manager Riset Institute For Diplomacy, Economic, Peace and Thought-INDEPTH, Cendhy Vicky V.
Sumber :
  • Istimewa

Mojtaba, Aura dan Horison Imaji

Sebagai fenomena yang jangan sekali dilihat oleh mata itu, adalah bagaimana kecintaan rakyat Iran kepada The Supreme Leader mereka.
Senin, 13 Juli 2026 - 12:03 WIB
Reporter:
Editor :

(Artikel Opini Ini Ditulis Cendhy Vicky V, Manager Riset Institute For Diplomacy, Economic, Peace and Thought-INDEPTH)

tvOnenews.com - Pemakaman Sayyid Imam Ali Khamenei hampir berakhir. Tetapi tangisan rakyat Iran belum juga reda. Mungkin tidak akan pernah selesai. Jutaan pelayat membawa poster sang pemimpin dan guru bangsa bahkan dunia. Lautan manusia itu juga membawa foto sang rahbar (pemimpin agung): Imam Mojtaba Hosseini Khamenei. Belum pernah ada dalam sejarah politik modern dimana suasana batin antar rakyat dan pemimpin baru itu sama. Berduka. Suksesi politik bukan untuk saling lempar bunga dengan suasana mengharu-biru. Tapi tabur bunga yang kelabu.

Sebagai fenomena yang jangan sekali dilihat oleh mata itu, adalah bagaimana kecintaan rakyat Iran kepada The Supreme Leader mereka. Imam Mojtaba. Seorang figur yang hampir jarang tampil dipublik. Meski karir militernya dan politiknya dapat dilacak, tetap saja masih terasa kurang. Apalagi ditambah dengan argumen bernada peyoratif yang menyatakan bahwa Mojtaba tidak terlalu disukai oleh banyak pihak karena memiliki ideologi yang terlalu keras. Dan dianggap belum cukup mampu mengemban tanggung jawab sebagai pewaris pemimpin agung dalam hal penguasaan hukum Islam (syariah)—tentu pendapat itu keluar jauh sebelum Imam Ali Khamenei wafat dan harus diragukan penuh. 

Dalam konteks ilmu politik paling modern yakni perilaku politik (political behavior), “kecintaan” kepada figur pemimpin diharuskan melewati beberapa prasyarat. Diketahaui (popularitas), disukai (akseptabilitas), dan dipilih (elektabilitas). Dimana kesukaan dan kecintaan akan diukur dengan matrix matematis. Serta mampu dijelaskan secara statistik. Melampaui itu semua perilaku politik kesulitan menjelaskan hal tersebut. Memang jawaban paling konversatif yang paling dapat cukup diterima ialah; Republik Islam Iran tidak menganut demokrasi umum (baik demokrasi parlementer atau demokrasi presidensial). Karena Iran memilih untuk mengkombinasikan antara demokasi dan islam. Yakni teokrasi (teologi politik dan demokrasi). Dimana keputusan politik paling sensitif dan strategis, bukan berada di tangan presiden. Tapi di Wilayatul Al Faqih (Velayat-E Faqih), digenggam oleh ulama.  
 
Tetapi tetap saja penulis merasa ada yang belum bisa dijelaskan pada kerangka politik itu. Keluar pada konteks itu, penulis “terganggu” kagum dengan tingkat kepercayaan dan kecintaan rakyat Iran pada Sang Rahbar. Bisa diimajinasikan, bagaimana politik modern dengan ditopang kemajuan media, membawa dunia politik setingkat dengan dunia hiburan (entertaiment). Popularitas menjadi hukum “fardu ain (wajib)” dalam politik. Kepopuleran Mojtaba justru berbanding terbalik dengan kemunculannya di ruang publik dan percakapan warga. Mungkin itulah definisi paling agung dalam kaitan politik dan agama, yakni dinamakan iman kepada imam.

Berita Terkait

1
2 3 4 5 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:04
01:06
09:51
01:53
08:03
09:58

Viral