- REUTERS/Hannah Mckay
Piala Dunia 2026: Spanyol dan Revolusi Taktik Lapangan Hijau Barcelona
Sebelumnya, pemain hebat adalah pemain dengan skill. Seperti Adriano, Henry, Alan Shearer, Raul Gonzales, bahkan Weah. Skill individu yang sebelumnya menjadi fondasi permainan, adalah pilar atau subjektivitas yang ditolak.
Dalam konteks pemikiran Thomas Kuhn (The Structure of Scientific Revolutions-1962) mengenai revolusi saintifik, inilah yang disebut sebagai anomaly. Skill individu ternyata tidak cukup menjelaskan kemenangan. Tim bertabur bintang sering gagal menyapu bersih trofi dalam satu musim. Contohnya Real Madrid dengan proyek Los Galacticos-nya dan Inggris saat Golden Generation (2001-2010).
Itulah mengapa paradigma lama dalam sepak bola gagal menjelaskan fenomena baru. Itulah mengapa Pep tahu bahwa sepak bola telah menemukan pertanyaan besar baru dan krisis teoritis yang harus segera dijawab. Ditemukan. Dan dibuktikan dengan (penemuan) paradigma baru. Dengan sistem yang lebih kompleks dan canggih, untuk melihat lapangan hijau yang bukan sekedar permainan 11 vs 11 orang.
Pep Guardiola sebagai “filsuf si kulit bundar”, telah membuat sepak bola dan gol harus bisa dijelaskan dan diterjemahkan. Semua taktik, statistik, strategi, ruang, momentum, gerakan, tipuan, tendangan, posisi, dan waktu harus dapat ditafsirkan secara tepat dan akurat. Sebagai seorang filsuf, Pep berdiri diatas beberapa nama besar yang banyak melahirkan taktik hebat. Beberapa diantaranya adalah Sacchi, Lobanovskyi, Michels, dan Bielsa. Pada khususnya Johan Cruyff.
Hubungan antara Johan Cruyff dan Pep Guardiola merupakan salah satu hubungan guru–murid paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola modern. Guardiola tidak hanya bermain di bawah asuhan Cruyff pada era Dream Team Barcelona (1988–1996), tetapi juga menjadikan filosofi Cruyff sebagai fondasi utama ketika membangun tim-timnya di Barcelona, Bayern Munchen, hingga Manchester City. Mengutip dari The Guardian, Guardiola sendiri pernah menyatakan: "I knew nothing about football before knowing Cruyff. (Saya tidak tahu apa pun tentang sepak bola sebelum mengenal Cruyff).”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Cruyff bukan sekadar pelatih bagi Guardiola, melainkan pembentuk cara berpikirnya tentang sepak bola. Pengaruh besar dari pemain cum pelatih asal Belanda itu kepada Pep sangat besar. Pep menambahkan seminimalnya enam sub baru (sependek pengetahuan penulis) dalam kajian akademik yang bernama ilmu sepak bola.