- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Indonesia Punya 6 Komoditas Kelas Dunia, Cadangannya Bisa Jadi Modal Ekonomi hingga Puluhan Tahun
Sementara itu, batu bara menjadi komoditas energi yang memberikan kontribusi besar terhadap aktivitas pertambangan nasional. U.S. Energy Information Administration (EIA) mencatat Indonesia memiliki sekitar 32,2 miliar short ton cadangan batu bara pada 2024, terbesar ketujuh dunia. Produksinya mencapai sekitar 917 juta short ton pada tahun yang sama sehingga Indonesia menjadi produsen batu bara terbesar ketiga dunia.
Cadangan Besar Tidak Otomatis Menjadi Kekayaan Negara
Besarnya angka cadangan tersebut penting, tetapi istilah “cadangan” perlu dipahami secara tepat. Cadangan bukan berarti seluruh material yang berada di dalam tanah pasti dapat langsung ditambang. USGS mendefinisikan reserves sebagai bagian dari sumber daya yang secara ekonomi dapat diekstraksi atau diproduksi pada saat penilaian dilakukan.
Indonesia sendiri memiliki neraca sumber daya dan cadangan yang diperbarui setiap tahun. Badan Geologi ESDM menyatakan publikasi 2025 menggunakan data hingga Desember 2024 dan mencakup 29 komoditas mineral logam, 57 komoditas mineral bukan logam dan batuan, serta batu bara dan gambut. Data tersebut menjadi salah satu dasar untuk penyusunan kebijakan pengelolaan sumber daya nasional.
Artinya, tantangan Indonesia bukan sekadar menemukan cadangan baru. Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana mengelola, menambang, mengolah, dan mendapatkan nilai tambah dari kekayaan tersebut tanpa mengabaikan keberlanjutan serta kepentingan nasional.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Ketua Indonesian Mining Institute Irwandy Arif. Dalam Diskusi Kebangsaan: Prospek Implementasi Pasal 33 UUD 1945 di Universitas Paramadina, ia menilai besarnya potensi minerba Indonesia belum sepenuhnya tercermin dalam penerimaan negara.
Indonesia masih berada dalam jajaran 10 besar dunia dari sisi cadangan maupun produksi untuk enam komoditas, yakni nikel, timah, bauksit, emas, batu bara, dan tembaga.
"Cadangan sumber daya mineral tersebut juga masih dapat bertahan hingga puluhan tahun, sehingga menjadi modal penting bagi perekonomian nasional," ujarnya.
Contohnya kontribusi sejumlah perusahaan tambang negara terhadap produksi nasional. Produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), menurut catatan Irwandy, sekitar 0,83 persen dari produksi nasional. Pada nikel, kontribusi Antam disebut sekitar 5,97 persen, sedangkan produksi bauksit Antam mencapai sekitar 28,28 persen.