- Tim tvone - tim tvone
Hari Santri Nasional 2026, Gubernur Khofifah Ajak Santri Kuasai Teknologi, Kuatkan Ekonomi dan Rawat Persatuan
Meski demikian, Khofifah menegaskan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan akhlak, integritas, tanggung jawab, serta kemampuan memilah informasi. Teknologi perlu dimanfaatkan untuk memperluas manfaat ilmu dengan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
“Namun, saya ingin menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Substansi dakwah tetap harus berlandaskan ilmu yang benar, akhlak mulia, serta nilai Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam,” ungkapnya.
Karena itu, pemanfaatan AI dalam dakwah harus tetap memperhatikan ketepatan sumber dan substansi keilmuan. Bimbingan para ulama menjadi bagian penting agar teknologi digunakan secara tepat dan bertanggung jawab.
“Pemanfaatan AI dalam dakwah harus disertai verifikasi sumber, kehati-hatian, dan bimbingan para ulama. Teknologi tidak boleh menggantikan kedalaman ilmu, otoritas keilmuan, maupun tanggung jawab moral seorang pendakwah,” tegasnya.
Gubernur Khofifah juga mengajak santri mengisi ruang digital dengan konten yang menyejukkan dan bermanfaat. Kehadiran santri diharapkan mampu memperkuat literasi masyarakat, melawan hoaks, serta membangun percakapan yang menghormati perbedaan.
Sejalan dengan penguasaan teknologi, ia menyoroti besarnya potensi pesantren dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Pengembangan kewirausahaan, koperasi, UMKM, pertanian, industri halal, dan ekonomi digital menjadi ruang kontribusi yang dapat terus diperluas.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, dibutuhkan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas alumni. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian pesantren sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga penggerak kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Khofifah menekankan bahwa ekosistem santri memiliki peran penting dalam merawat persatuan bangsa. Nilai penghormatan kepada guru, kebersamaan, kesederhanaan, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama yang tumbuh di pesantren merupakan bekal berharga dalam kehidupan bermasyarakat.
Nilai-nilai tersebut perlu terus dihadirkan di tengah keberagaman suku, budaya, bahasa, dan keyakinan di Indonesia. Ia mengajak seluruh santri menjadikan perbedaan sebagai kekayaan yang dirawat bersama serta menolak ujaran kebencian dan segala bentuk provokasi.
“Santri harus menjadi jembatan persaudaraan, merawat persatuan, serta menolak ujaran kebencian dan segala bentuk provokasi. Semangat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah harus terus menjadi landasan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa,” pesannya.