- Istimewa
Proyek Industri Fatty Acid Rp3,77 Triliun di Bontang Ditawarkan kepada Investor melalui IPRO
Dalam pengembangannya, kawasan industri juga disiapkan untuk mendukung ekosistem industri terintegrasi. Area plant pengolahan dirancang seluas lima hektare dan area penyimpanan bahan baku serta hasil produksi sekitar 15 hektare. Prospek pasar proyek ini dinilai cukup menjanjikan. Data pasar menunjukkan kebutuhan global Fatty Acid terus mengalami peningkatan, terutama dari kawasan Asia dan Eropa. Konsumsi produk turunan oleokimia diproyeksikan tumbuh rata-rata sekitar tujuh persen per tahun seiring meningkatnya kebutuhan industri manufaktur dan consumer goods. Selain peluang pasar ekspor, proyek ini juga didorong oleh tingginya kebutuhan industri domestik terhadap bahan baku oleokimia.
Pengembangan industri dalam negeri diharapkan mampu memperkuat rantai pasok nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. Dari sisi finansial, proyek tersebut dinilai memiliki prospek investasi yang kompetitif. Nilai Internal Rate of Return (IRR) tercatat sebesar 14,60 persen dengan Net Present Value (NPV) mencapai sekitar USD 985 juta. Sementara periode pengembalian investasi (payback period) diproyeksikan sekitar enam tahun delapan bulan.
Selain didukung potensi pasar dan bahan baku, proyek ini juga menawarkan dukungan infrastruktur industri yang cukup lengkap. Kawasan industri memiliki pasokan listrik hingga 80 MW, fasilitas air bersih, jaringan telekomunikasi, nitrogen, pengolahan limbah, hingga dukungan utilitas industri lainnya.
Aspek tenaga kerja juga menjadi salah satu daya tarik investasi. Kota Bontang dinilai memiliki sumber daya manusia yang cukup siap mendukung pengembangan industri manufaktur dan kimia. Dalam profil proyek disebutkan kebutuhan tenaga kerja operasional diperkirakan mencapai sekitar 300 orang.
Pemerintah juga menyiapkan berbagai dukungan kebijakan untuk meningkatkan daya tarik investasi, mulai dari insentif fiskal, kemudahan perizinan, hingga dukungan implementasi sistem perizinan berbasis risiko melalui OSS-RBA. Keberadaan proyek ini diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Kota Bontang sebagai kawasan industri strategis di Kalimantan Timur, tetapi juga mendorong percepatan hilirisasi kelapa sawit nasional. Selain menciptakan lapangan kerja baru, proyek tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sawit Indonesia dan memperluas kontribusi ekspor produk hilir ke pasar global. (chm)