news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ketum Kadin Indonesia Anindya Bakrie dalam Indonesia Economic Summit 2026 di Shangri-La Jakarta, Rabu (4/2/2026)..
Sumber :
  • tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar

Anindya Bakrie Sebut Elektrifikasi dan Hilirisasi Mineral Jadi Tulang Punggung Pertumbuhan Hijau Ekonomi Indonesia

Ketum Kadin Anindya Bakrie menilai, transisi hijau justru membuka peluang investasi, industrialisasi, hingga penciptaan lapangan kerja dalam skala besar.
Rabu, 4 Februari 2026 - 14:54 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menegaskan bahwa agenda pertumbuhan hijau bukan sekadar isu lingkungan, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi besar pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, transisi hijau justru membuka peluang investasi, industrialisasi, hingga penciptaan lapangan kerja dalam skala besar.

“Bahwa pada dasarnya pertumbuhan hijau bukanlah sesuatu yang paralel, melainkan bagian integral dari kisah pertumbuhan nasional,” kata Anindya dalam Indonesia Economic Summit 2026 di Shangri-La Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Anindya menyebut pertumbuhan hijau sebagai sebuah growth story yang konkret, karena berpotensi mendorong arus investasi, memperluas perdagangan, dan mempercepat industrialisasi di dalam negeri.

“Mengapa saya menganggap ini sebagai kisah pertumbuhan? Karena menurut saya ini akan menciptakan investasi, perdagangan, industrialisasi, dan pada akhirnya, lapangan kerja. Itulah yang dibutuhkan negara ini,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, Anindya menilai pemerintah dan pelaku usaha harus menentukan posisi strategis di tengah ekosistem global yang terus berkembang. Ia menekankan pentingnya peran Indonesia dalam rantai pasok hijau dunia.

“Dan ketika kita melihat lebih dalam ke dalam kisah pertumbuhan ini, bagi Indonesia, kita harus memilih di mana kita ingin berperan. Ini adalah rantai pasokan dan ekosistem yang besar,” jelasnya.

Anindya mengidentifikasi dua sektor utama yang akan menjadi penggerak pertumbuhan hijau nasional, yakni elektrifikasi dan hilirisasi mineral. Menurutnya, elektrifikasi menyumbang porsi terbesar dari peluang ekonomi hijau.

“Saya pikir ada dua hal yang terlintas dalam pikiran: satu, elektrifikasi; dan nomor dua, hilirisasi mineral. Sekarang, elektrifikasi mencakup sekitar 40% dari peluang yang ada dalam kisah pertumbuhan hijau ini,” ungkap Anindya.

Ia mengungkapkan bahwa adopsi kendaraan listrik (EV) di Indonesia memang masih relatif kecil, namun menunjukkan tren awal yang menjanjikan.

“Dan tidak banyak orang yang tahu, tetapi tahukah Anda bahwa 1,5 persen dari mobil baru yang dijual di Indonesia saat ini sudah berupa EV (Electric Vehicle) hari ini? Tentu saja Tiongkok 90 persen, mungkin Eropa 60 persen,” katanya.

Meski demikian, Anindya menilai tren tersebut telah memicu lahirnya berbagai industri baru beserta ekosistem pendukungnya. Sejumlah investor global, terutama dari Tiongkok, mulai membangun basis produksi di Indonesia.

“Dan ini menciptakan serangkaian industri baru beserta ekosistemnya, bukan? Dan banyak pemain, terutama dari Tiongkok, mereka membangun fasilitas di sini. Jadi, elektrifikasi tentu merupakan satu hal yang dapat mendorong pertumbuhan ini,” paparnya.

Selain elektrifikasi, Anindya menekankan pentingnya hilirisasi mineral kritis sebagai fondasi ekonomi hijau Indonesia. Ia mengingatkan bahwa Indonesia tidak hanya unggul di nikel, tetapi juga memiliki cadangan strategis mineral lain.

“Dan hal kedua adalah hilirisasi mineral kritis. Sekarang orang-orang berbicara tentang nikel, 60 persen dari produksi dunia terjadi di sini, tetapi juga jangan lupakan kobalt, tembaga, dan juga bauksit. 10 persen dari produksinya terjadi di sini,” ujarnya.

Menurut Anindya, potensi mineral tersebut sebagian besar berada di kawasan Indonesia timur, sehingga hilirisasi juga berpeluang mendorong pemerataan pembangunan nasional.

“Dan ini banyak terjadi di bagian timur Indonesia, sehingga Anda juga dapat membawa pemerataan dalam pertumbuhan Indonesia,” pungkasnya.

Pernyataan Anindya menegaskan posisi dunia usaha dalam mendorong transisi hijau sebagai jalan strategis bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing global sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (agr/rpi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:57
16:35
03:01
06:45
02:08
03:21

Viral