- Antara Foto
Pasar Keuangan RI Diprediksi Tertekan Usai Moody’s Turunkan Outlook, IHSG, Rupiah, hingga SBN Bakal Melemah
Tekanan juga terasa di pasar valuta asing. Rupiah ditutup melemah 0,33 persen ke level Rp16.830 per dolar AS. Sepanjang awal 2026 hingga pekan pertama Februari, nilai tukar rupiah tercatat telah terdepresiasi 0,84 persen. Pada perdagangan berikutnya, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.795 hingga Rp16.885 per dolar AS, seiring investor global menyesuaikan portofolio mereka pasca keputusan Moody’s.
Pengamat ekonomi dari Bright Institute, Yanuar Rizky, menilai dinamika penilaian lembaga pemeringkat asing terhadap Indonesia perlu direspons serius. Ia mengingatkan bahwa perubahan persepsi pasar bisa memicu tekanan yang lebih luas jika tidak diimbangi dengan penguatan kredibilitas kebijakan dan tata kelola.
“Kalau dibaca poin-poin alasan Moody’s memberi proyeksi ke pasar Indonesia, semuanya terkait risiko sosial-politik. Ini bisa berdampak ke kepercayaan investor,” ujarnya.
Meski demikian, Yanuar menilai gejolak di pasar obligasi SBN masih relatif tertahan karena sekitar 60–70 persen surat utang negara dipegang oleh investor institusional domestik, seperti Bank Indonesia dan BPJS Ketenagakerjaan. Kondisi ini membuat volatilitas SBN lebih terbatas, namun tekanan cenderung berpindah ke pasar saham dan nilai tukar.
“Tekanan terbesar justru terlihat di saham dan rupiah,” katanya.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat kepercayaan investor, termasuk penyesuaian Peraturan Bursa Nomor I-A tentang Pencatatan Saham yang dijadwalkan berlaku mulai Maret 2026. Salah satu poin pentingnya adalah peningkatan batas minimum free float perusahaan tercatat menjadi 15 persen secara bertahap.
BEI juga mendorong penguatan tata kelola melalui kewajiban pendidikan berkelanjutan bagi direksi dan komisaris, peningkatan kompetensi akuntansi manajemen, serta pengetatan persyaratan bagi calon emiten. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas pasar modal domestik di tengah tekanan global dan sentimen negatif pasca penurunan outlook kredit Indonesia oleh Moody’s.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar kini cenderung bersikap lebih defensif, sambil menanti konsistensi kebijakan pemerintah dan stabilitas makroekonomi yang diharapkan mampu meredam dampak lanjutan dari keputusan Moody’s terhadap pasar keuangan nasional. (nsp)