- dok.Setpres
Bahlil Tegaskan Mineral Kritis Tetap Wajib Hilirisasi Meski Ada Deal dengan AS, Ekspor Mentah Tetap Ditutup
Sebagai contoh, Bahlil menyinggung investasi yang telah direalisasikan PT Freeport Indonesia melalui pembangunan smelter tembaga dengan nilai hampir 4 miliar dolar AS, yang disebut sebagai salah satu fasilitas terbesar di dunia.
Menurutnya, pola investasi serupa dapat diterapkan untuk pengembangan mineral kritis lain seperti nikel, logam tanah jarang, dan emas.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah menawarkan dua skema investasi bagi perusahaan asal AS.
Skema pertama berupa penawaran langsung untuk kegiatan eksplorasi. Skema kedua melalui kemitraan atau joint venture dengan badan usaha milik negara (BUMN).
"Begitu mereka sudah berproduksi dan membangun smelter atau hilirisasinya, maka hak mereka untuk mengekspor ke Amerika," sambungnya.
Meski membuka peluang bagi AS, Bahlil menegaskan Indonesia tidak membatasi kerja sama hanya pada satu negara. Pemerintah tetap memberi ruang kepada negara lain untuk berinvestasi di sektor mineral kritis.
Ia menekankan kebijakan tersebut tidak bersifat eksklusif, melainkan berlandaskan prinsip keterbukaan dan keadilan bagi seluruh mitra strategis.
"Kita berikan ruang sama juga dengan negara-negara lain, jadi equity treatment saja," jelas Menteri ESDM. (ant/rpi)