news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi petugas SPPG menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG)..
Sumber :
  • Antara

Kadin Dorong Pengusaha Lokal Genjot Produksi Telur untuk MBG, Bisa Butuh 480 Juta Butir per Bulan

Permintaan telur diproyeksikan terus meningkat seiring target penerima manfaat MBG yang akan mencapai 92,78 juta orang pada 2029. Sehingga, Kadin menilai pengusaha lokal perlu terus meningkatkan produksi.
Rabu, 29 April 2026 - 22:24 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pelaku usaha local meningkatkan produksi telur ayam untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus bertambah.

Dengan jumlah penerima manfaat saat ini sekitar 60 juta orang dan asumsi konsumsi dua butir telur per minggu, kebutuhan diperkirakan mencapai 120 juta butir per minggu atau lebih dari 480 juta butir per bulan.

Wakil Ketua Umum Bidang Peternakan Kadin Indonesia, Cecep Muhammad Wahyudin, menegaskan bahwa keterlibatan mitra dari China bukan untuk menggantikan peran pengusaha lokal.

Kerja sama tersebut justru ditujukan untuk memperkuat kapasitas produksi melalui transfer teknologi peternakan. Ia menambahkan, permintaan telur diproyeksikan terus meningkat seiring target penerima MBG yang mencapai 92,78 juta orang pada 2029, serta tren kenaikan konsumsi telur per kapita.

Jika jumlah penerima MBG mencapai 92,78 juta orang pada 2029 dan konsumsi masyarakat meningkat menjadi lebih dari satu butir per hari atau di atas 365 butir per kapita per tahun, maka kebutuhan telur akan melampaui kapasitas produksi.

Karena itu, peningkatan produksi dan perbaikan distribusi harus segera direncanakan. Hal ini penting mengingat rantai industri ayam petelur cukup panjang, mulai dari Great Grand Parent (GGP), grand parent stock (GPS), parent stock (PS), hingga final stock (FS) sebagai penghasil telur konsumsi. Untuk membangun rantai tersebut dibutuhkan waktu lebih dari tiga tahun.

“Keterlibatan mitra teknologi harus dipersiapkan sejak dini agar tidak terjadi kekurangan pasokan di masa depan,” ujar Cecep di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kadin Indonesia bersama Kadin Provinsi Aceh menerima kunjungan delegasi industri telur dari China pada 21 April 2026. 

Pertemuan itu membahas kerja sama penguatan rantai pasok MBG di koridor Sumatra melalui investasi dan transfer teknologi di sektor ayam petelur, khususnya di Aceh.

Cecep memastikan perusahaan China yang terlibat tidak akan menjadi integrator vertikal di industri ayam petelur nasional.

Hal ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 yang melarang penguasaan rantai usaha dari hulu hingga hilir oleh satu entitas. Selain itu, terdapat Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2017 yang mengatur keseimbangan pasokan dan permintaan.

Menurutnya, mitra dari China diharapkan membawa teknologi peternakan modern untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi melalui pendekatan integrasi horizontal. Inisiatif ini telah dirancang sejak Rapimnas Kadin pada akhir 2024.

Pemanfaatan teknologi modern menjadi salah satu program prioritas Kadin Bidang Peternakan. Saat ini juga telah dibentuk Satuan Tugas (Satgas) Protein yang melibatkan Kementerian Koperasi, Kadin Indonesia, dan HKTI.

“Ini adalah dukungan nyata bagi UMKM peternak agar mampu memproduksi telur dengan efisiensi tinggi, standar kualitas internasional, dan harga yang kompetitif,” ujarnya.

Rencana kerja sama ini menargetkan investasi sekitar Rp1,4 triliun untuk pembangunan sektor hulu, termasuk breeding farm, pabrik pakan, dan fasilitas pengolahan telur di Provinsi Aceh. Program ini akan melibatkan peternak mandiri untuk membangun ekosistem industri peternakan yang terintegrasi secara horizontal.

“Kadin berharap inisiatif ini dapat direplikasi di berbagai daerah, sehingga terbentuk kedaulatan pangan di masing-masing wilayah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional,” jelas Cecep.

Saat ini, konsumsi telur per kapita di Indonesia masih tergolong lebih rendah dibandingkan Malaysia yang sudah melampaui satu butir per hari. Di Indonesia, konsumsi masih berada di bawah angka tersebut.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi telur nasional berada di kisaran 90–100 miliar butir per tahun. Namun, kapasitas tersebut telah terserap oleh kebutuhan rumah tangga, industri makanan, serta sektor hotel, restoran, dan kafe, sehingga tambahan permintaan dari program MBG berpotensi menekan rantai pasok.

Kadin menilai tantangan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada efisiensi distribusi dan kualitas pasokan. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi seperti sistem kandang tertutup, otomatisasi pakan, hingga logistik berbasis cold chain dan digitalisasi distribusi menjadi sangat penting.

“Ini adalah strategi jangka panjang untuk memperkuat rantai pasok pangan nasional, bukan solusi instan melalui impor. Kami ingin memastikan peternak lokal menjadi tuan rumah di negeri sendiri dengan dukungan teknologi terbaik. Selain itu juga Kadin membidik pangsa pasar global khususnya pemenuhan kebutuhan telur untuk Singapura, yang saat ini Indonesia belum menjadi bagian pemasok utama telur ke negeri tetangga dekat ini,” terang Cecep.

Melalui kolaborasi investasi dan transfer teknologi, Kadin optimistis industri ayam petelur nasional dapat berkembang lebih modern, efisien, serta mampu memenuhi lonjakan kebutuhan protein masyarakat di masa mendatang. (rpi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:54
06:32
01:03
01:19
02:05
05:39

Viral