- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Nilai Tukar Rupiah Anjlok, BI Yakinkan akan Menguat Meski Dihantam Minyak Mahal dan Suku Bunga AS
Jakarta, tvOnenews.com - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkap, pandangan optimistis pemerintah terhadap nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Selasa (5/5/2026), rupiah disebut sedang berada di level undervalue dan berpotensi menguat ke depan.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar Rupiah menyentuh di angka Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS), dan ini menjadi satu titik terlemah mata uang Indonesia.
Perry menyebut pembahasan bersama Presiden menyoroti dua aspek utama nilai tukar, yakni kondisi fundamental ekonomi domestik dan tekanan jangka pendek dari faktor eksternal serta musiman.
“Tadi dibahas dan mendapatkan arahan dari Bapak Presiden mengenai nilai tukar. Berkaitan dengan dua hal penting mengenai nilai tukar,” ujarnya.
Menurutnya, secara fundamental, posisi rupiah saat ini tidak mencerminkan kekuatan ekonomi Indonesia yang sebenarnya.
“Bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalue. Undervalue dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat. Kenapa undervalue? Tadi disampaikan oleh Pak Menko Perekonomian, fundamental kita itu kuat,” jelas Perry.
Ia merinci indikator ekonomi yang dinilai menjadi penopang utama penguatan rupiah, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi hingga stabilitas inflasi dan sektor keuangan.
“Pertumbuhan sangat tinggi 5,61%, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,” katanya.
Namun, dalam jangka pendek, tekanan terhadap rupiah tetap terjadi. Perry menegaskan, kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi faktor global dan siklus musiman yang rutin terjadi setiap tahun.
“Nah, kenapa dalam jangka pendek ini ada tekanan-tekanan nilai tukar? Sebabnya ada dua yaitu ada faktor global dan kemudian pada faktor-faktor musiman,” ujarnya.
Dari sisi global, tekanan datang dari lonjakan harga minyak dunia, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, hingga penguatan dolar AS yang memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
“Faktor globalnya apa yang menyebabkan tekanan nilai tukar dalam jangka pendek ini? Adalah satu harga minyak yang tinggi. Dua suku bunga Amerika yang juga meningkat tinggi, yield US Treasury 10 tahun sekarang adalah 4,47%. Demikian juga dolar yang menguat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut turut diperparah oleh capital outflow dari emerging markets, termasuk Indonesia, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
“Dan Pak Menko tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia,” kata Perry.
Selain faktor global, tekanan juga dipicu oleh kebutuhan dolar yang meningkat secara musiman, terutama pada periode April hingga Juni.
“Nah, memang dalam secara musiman April, Mei, Juni ini memang permintaan terhadap dolarnya tinggi. Ada untuk pembayaran repatriasi dividen, ada pembayaran utang, dan juga untuk jemaah haji,” ujarnya.
Meski demikian, Bank Indonesia tetap menilai tekanan tersebut bersifat sementara. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, rupiah diyakini akan kembali stabil dan menguat dalam jangka menengah.
“Tapi rupiah adalah undervalue dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat,” tegas Perry. (agr/rpi)