- Antara
Rupiah Dibuka Melemah dan Ditutup Anjlok ke Rp17.382, BI Akui Cadangan Devisa Ikut Turun
Jakarta, tvOnenews.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Setelah dibuka melemah pada perdagangan pagi, mata uang Garuda akhirnya ditutup anjlok ke level Rp17.382 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah juga dibarengi dengan penurunan cadangan devisa Indonesia yang tercatat turun menjadi US$146,2 miliar pada akhir April 2026.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran pasar karena pelemahan rupiah diperkirakan masih berlanjut pada perdagangan awal pekan depan.
Rupiah Dibuka Melemah Sejak Pagi
Pada perdagangan pagi di pasar spot exchange, rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS.
Nilai tukar rupiah tercatat turun 19 poin atau 0,11 persen ke posisi Rp17.352 per dolar AS pada pukul 09.05 WIB.
Tekanan terhadap rupiah berlanjut hingga siang hari. Pada pukul 11.32 WIB, mata uang Indonesia tercatat melemah 55 poin atau 0,32 persen ke level Rp17.388 per dolar AS.
Sementara pada pukul 13.35 WIB, rupiah masih berada di zona merah setelah melemah 27 poin ke posisi Rp17.360 per dolar AS.
Hingga penutupan perdagangan sore, rupiah akhirnya ditutup turun 49 poin atau 0,28 persen di level Rp17.382 per dolar AS.
Rupiah Diprediksi Masih Rentan Pekan Depan
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif dan cenderung melemah pada perdagangan Senin, 11 Mei 2026.
Menurut Ibrahim, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS.
“Sedangkan untuk perdagangan Senin besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.380 - Rp17.430,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Ia menjelaskan tekanan terhadap rupiah kembali meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas.
Situasi tersebut meredam optimisme pasar terkait peluang gencatan senjata serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelumnya sempat memberi sentimen positif bagi pasar global.
Sinyal The Fed Ikut Tekan Rupiah
Selain faktor geopolitik, pasar juga menyoroti arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
Ibrahim mengatakan perbedaan pandangan dari sejumlah pejabat Federal Reserve turut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati.