news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Direktur Utama Arsari Tambang, Aryo P. S. Djojohadikusumo, dalam forum industri pertambangan dan metalurgi Met Connex 2026 di JCC..
Sumber :
  • Istimewa

Arsari Tambang akan Bangun Pusat Riset Timah dan REE di Bangka, Ini Urgensinya bagi Hilirisasi Mineral Nasional

Dirut Arsari Tambang, Aryo P. S. Djojohadikusumo, menjelaskan pusat riset ini nantinya akan difokuskan sebagai basis pengembangan teknologi timah dan pengolahan logam tanah jarang.
Selasa, 12 Mei 2026 - 20:49 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - PT Arsari Tambang berencana membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) di Bangka, sebagai bagian dari strategi hilirisasi mineral dan penguatan teknologi pertambangan nasional.

Direktur Utama Arsari Tambang, Aryo P. S. Djojohadikusumo, memaparkan keberadaan pusat riset tersebut menjadi kebutuhan penting untuk meningkatkan daya saing industri timah Indonesia di tengah meningkatnya permintaan teknologi global.

“Bayangin, industri timah Indonesia sudah ada selama 150 tahun dan kita tidak punya pusat riset timah,” kata Aryo Djojohadikusumo saat jadi pembicara dalam forum industri pertambangan dan metalurgi Met Connex 2026 di JCC, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Ia menjelaskan pusat riset itu nantinya akan difokuskan sebagai basis pengembangan teknologi timah dan pengolahan logam tanah jarang yang selama ini masih terbatas di Indonesia.

Menurut Aryo, rare earth elements merupakan produk sampingan timah yang memiliki nilai strategis tinggi bagi masa depan industri global, terutama untuk mendukung transisi energi dan teknologi berteknologi tinggi.

Beberapa unsur yang disebut memiliki potensi besar di antaranya neodymium (NdPr) dan dysprosium yang banyak digunakan dalam berbagai perangkat teknologi dan sektor energi.

“Semoga kita bisa mendapatkan manfaat dari itu. Salah satu hal yang kami lakukan adalah berinvestasi membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang di Bangka,” ujarnya.

Aryo menilai Indonesia harus mulai menguasai teknologi hilir berbasis timah, termasuk pengembangan solder untuk industri semikonduktor yang membutuhkan formulasi campuran logam atau alloy dengan standar tinggi.

Ia menegaskan pengembangan teknologi tersebut tidak bisa terus bergantung pada pasar luar negeri. Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat kapasitas riset domestik dan membangun ekosistem industri nasional agar inovasi dan nilai tambah ekonomi tetap berada di dalam negeri.

“Kita perlu menguasainya, dan ini harus dimiliki oleh Indonesia, diteliti di Indonesia, dan dibuat di Indonesia,” katanya.

Aryo juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari akademisi, perusahaan swasta, hingga BUMN sektor timah untuk mempercepat pengembangan pusat riset tersebut.

Menurut dia, kolaborasi dengan perusahaan yang telah lama bergerak di industri timah dapat menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem penelitian mineral nasional.

Pembangunan pusat riset tersebut menjadi bagian dari agenda besar Arsari Tambang dalam memperkuat hilirisasi mineral nasional.

Sebelumnya, perusahaan telah membangun pabrik solder di Batam melalui PT Solder Tin Andalan Indonesia sebagai upaya memperluas rantai nilai industri timah dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Bagi Arsari Tambang, masa depan industri pertambangan tidak lagi hanya bergantung pada aktivitas ekstraksi sumber daya alam, tetapi juga kemampuan menciptakan nilai tambah melalui industrialisasi, inovasi teknologi, dan keberlanjutan industri mineral nasional. (rpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:10
01:22
05:11
01:38
03:33
22:38

Viral