- Istimewa
Bedah Potensi E-Wallet Emas, Digadang Bisa Jadi Terobosan Baru Ekonomi Digital, Ini Tantangan dan Peluangnya
Karena itu, desain e-wallet emas harus dirancang hati-hati. Dalam praktiknya, produk tersebut perlu diposisikan sebagai tabungan atau saldo nilai berbasis emas. Saat transaksi dilakukan, sistem harus lebih dulu mengonversi emas menjadi Rupiah sehingga merchant tetap menerima pembayaran melalui kanal resmi.
"Inilah titik tengah yang paling masuk akal: emas sebagai cadangan nilai, Rupiah sebagai alat bayar," sebut dia.
Mengapa Relevan bagi Ekonomi?
Heru memaparkan sejumlah alasan mengapa e-wallet emas layak dipertimbangkan serius oleh pemerintah maupun industri.
Menurut dia, e-wallet emas dapat membantu masyarakat menjaga daya beli di tengah inflasi. Meski bukan instrumen bebas risiko, emas selama ini dipandang memiliki karakter lindung nilai dalam jangka panjang. Digitalisasi juga membuat masyarakat bisa membeli emas dalam nominal kecil dan lebih mudah dicairkan.
"Kedua, e-wallet emas dapat mendorong inklusi keuangan berbasis aset nyata. Banyak masyarakat belum nyaman dengan instrumen investasi kompleks, tetapi memahami emas. Jika emas digital dikelola secara transparan, masyarakat kecil dapat masuk ke sistem keuangan formal tanpa harus membeli emas fisik dalam ukuran besar," ujar dia.
Selain itu, ekosistem emas digital dinilai dapat mengaktifkan emas rumah tangga yang selama ini tersimpan pasif. Dengan dukungan layanan bulion, kustodian, dan perdagangan digital, emas dapat menjadi bagian dari pendalaman pasar keuangan nasional.
"Keempat, e-wallet emas dapat menjadi jembatan antara ekonomi syariah dan ekonomi digital. Emas memiliki kedekatan historis dengan praktik muamalah. Namun, agar sesuai dengan hukum nasional, penggunaannya tetap harus ditempatkan dalam kerangka Rupiah dan regulasi jasa keuangan," kata Heru Muara Sidik.
Heru juga menilai model tersebut dapat mendukung kebutuhan transaksi lintas negara. Contohnya, masyarakat yang menabung emas untuk kebutuhan umrah, pendidikan luar negeri, atau perjalanan internasional dapat mengonversi emas digital menjadi mata uang yang dibutuhkan melalui mekanisme resmi.
Agenda Kebijakan
Agar e-wallet emas tidak berhenti sebagai wacana, Heru menilai sejumlah agenda kebijakan perlu segera disiapkan.
Pertama, diperlukan regulatory sandbox lintas otoritas karena e-wallet emas berada di persimpangan kewenangan Bank Indonesia, OJK, Bappebti, Kementerian Keuangan, hingga PPATK.