news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Rupiah.
Sumber :
  • Antaranews

Rupiah Menguat ke Rp18.070 per Dolar AS usai Pasar Respons Positif Rating Kredit S&P Indonesia

Rupiah menguat ke Rp18.070 per dolar AS usai pasar merespons positif rating kredit S&P Indonesia.
Rabu, 15 Juli 2026 - 09:29 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah menguat ke Rp18.070 per dolar Amerika Serikat (AS) usai pasar merespons positif rating kredit S&P Indonesia. 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Rabu, 15 Juli 2026. 

Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp18.099 per dolar AS pada Selasa, 14 Juli 2026.

Posisinya menguat 32 poin dari kurs sebelumnya di level Rp18.131 per dolar AS pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026.

Perdagangan di pasar spot pada Rabu, 15 Juli 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp18.070 per dolar AS.

Posisi rupiah menguat 21 poin atau 0,12 persen dari posisi sebelumnya di level Rp18.091 per dolar AS.

Dalam riset hariannya, Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar merespons positif setelah S&P Global Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5 persen setiap tahunnya sampai dengan tiga tahun ke depan di tengah kenaikan harga BBM.

"Lembaga pemeringkat ini mempertahankan peringkat kredit Indonesia dalam kategori layak investasi BBB dengan prospek tetap stabil," ujarnya, Rabu (15/7/2026). 

S&P menyampaikan peringkat kredit Indonesia bertahan di BBB berkat prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat. 

Hal ini terefleksikan dari pengaturan kebijakan ekonomi makro yang bijak serta beban utang eksternal maupun pemerintah yang relatif lebih ringan dibandingkan dengan negara-negara berperingkat sesama BBB. 

Pertumbuhan ekonomi ini didorong belanja fiskal dan kebijakan hilirisasi yang tidak lepas dari sentimen terhadap eksekusinya. 

Berdasarkan penilaian S&P, kebijakan pemerintah terkait dengan hilirisasi dan penguatan kontrol terhadap sumber daya mineral berpotensi meningkatkan pertumbuhan penerimaan dan penghasilan ekspor. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia, meski tembus 5,6 persen pada kuartal I-2026, dinilai tetap dibarengi oleh gejolak pasar keuangan selama semester I-2026. 

Pasar saham paling mengalami tekanan akibat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar.

Belum lagi nilai tukar rupiah juga turun sekitar 7 persen terhadap dolar AS pada periode yang sama.

S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen untuk tahun ini. Hal ini disebabkan berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya tingkat suku bunga dalam negeri.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:12
01:26
05:21
06:10
00:56
04:23

Viral