- Istimewa
Fenomena Lipstick Effect dan Financial Anxiety di Tengah Tekanan Ekonomi, Pakar Ingatkan Bangun Ketahanan Finansial
Jakarta, tvOnenews.com - Tekanan ekonomi yang masih membayangi masyarakat membuat berubahnya perilaku sebagian orang dalam mengelola keuangan.
Salah satu fenomena yang kini kian terlihat adalah lipstick effect, yakni kecenderungan orang untuk membeli barang atau jasa dengan harga terjangkau yang mampu memberikan kepuasan emosional meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih.
Fenomena ini juga dapat terlihat dari tetap tingginya aktivitas di pusat perbelanjaan, kafe, hingga meningkatnya pembelian berbagai produk affordable luxury.
Bagi sebagian masyarakat, pengeluaran tersebut menjadi bentuk self-reward untuk meredakan tekanan akibat kondisi ekonomi.
Namun di saat saat yang sama, kenaikan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, serta dinamika pasar tenaga kerja memicu meningkatnya financial anxiety atau kecemasan finansial.
Kondisi ini membuat sebagian orang mencari pelampiasan melalui konsumsi produk affordable luxury demi menjaga keseimbangan emosional.
Data Indonesia Millennial & Gen Z Report 2027 menunjukkan sebanyak 65,8% responden memilih menunda atau membatasi pengeluaran karena khawatir kondisi keuangan mereka akan memburuk di masa depan.
Sementara itu, 69,1% responden mengaku lebih membutuhkan konten yang memberikan solusi praktis mengenai pengelolaan keuangan dibandingkan narasi yang hanya berfokus pada risiko kemiskinan.
Temuan ini mengindikasikan bahwa financial anxiety tidak lagi hanya menjadi persoalan psikologis. Kondisi ini mulai memengaruhi berbagai keputusan ekonomi sehari-hari, mulai dari pola konsumsi, kebiasaan menabung, hingga strategi berinvestasi.
Sejumlah faktor dinilai menjadi penyebab meningkatnya financial anxiety. Di antaranya adalah kenaikan biaya hidup, kualitas lapangan kerja yang belum sepenuhnya mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja, serta tekanan sosial akibat budaya membandingkan gaya hidup di media sosial.
Merespons kedua fenomena tersebut, Direktur PT Insight Investments Management (IIM), Ria M. Warganda, menilai kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya membangun ketahanan finansial di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan.
Menurut Ria, lipstick effect dan financial anxiety menjadi respons psikologis yang wajar ketika masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Dalam kondisi tersebut, banyak orang cenderung menunda keputusan keuangan bernilai besar dan memilih pengeluaran kecil yang mampu memberikan kepuasan emosional.
"Namun, tantangan terbesarnya adalah memastikan kecemasan ini tidak melumpuhkan langkah-langkah strategis kita. Kebiasaan belanja tersebut harus tetap diimbangi dengan menabung dan berinvestasi secara konsisten agar momentum ini bisa menjadi dorongan untuk membangun perencanaan keuangan jangka panjang yang lebih baik," ujar Ria.
Ia mengatakan, masyarakat perlu memulai perencanaan keuangan dengan membangun fondasi yang kuat melalui pengelolaan arus kas, penyediaan dana darurat, serta investasi yang disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing.
"Investasi bukan sekadar mengejar potensi imbal hasil, melainkan proses membangun ketahanan finansial secara bertahap. Melalui strategi yang tepat dan dilakukan secara konsisten, masyarakat dapat menjadi lebih siap menghadapi ketidakpastian sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri dalam mengelola keuangan mereka," katanya.
Financial Anxiety Perlu Dijawab dengan Literasi Keuangan
Sebagai pakar investasi, Ria menilai meningkatnya financial anxiety harus direspons dengan memperkuat literasi keuangan dan melakukan evaluasi kondisi finansial sebelum mengambil keputusan investasi.
"Semakin baik literasi keuangan seseorang, semakin besar kemampuannya mengambil keputusan secara rasional, termasuk dalam memilih instrumen investasi yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan finansialnya," ujarnya.
Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perencanaan keuangan juga diperkirakan akan mendorong kebutuhan edukasi mengenai pengelolaan aset dan investasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga dalam jangka panjang.
Reksa Dana Pasar Uang Bisa Jadi Alternatif Investasi
Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pasar uang menjadi salah satu pilihan yang banyak dipertimbangkan.
Produk ini dinilai sesuai bagi investor dengan profil risiko konservatif maupun mereka yang baru mulai berinvestasi.
Di sini, Insight Investments Management menawarkan produk Insight Money (I-Money). Reksa dana pasar uang ini mengalokasikan dana pada instrumen pasar uang dan surat utang dengan jatuh tempo maksimal satu tahun.
Strategi tersebut dirancang untuk memberikan diversifikasi risiko sekaligus menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas pasar.
Meski demikian, investasi tetap mengandung risiko dan kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa mendatang.
Berdasarkan Fund Fact Sheet PT IIM per Juni 2026, Insight Money (I-Money) mencatatkan imbal hasil kumulatif sebesar 92,96% sejak diluncurkan pada Desember 2015.
Capaian tersebut melampaui pertumbuhan Infovesta Money Market Fund Index yang tercatat sebesar 58,44% pada periode yang sama.
Dalam periode yang lebih pendek, I-Money juga membukukan kinerja sebesar 30,70% dalam lima tahun, 18,33% dalam tiga tahun, dan 5,31% dalam satu tahun terakhir.
Kinerja tersebut menunjukkan konsistensi produk dalam memberikan pertumbuhan investasi sekaligus menjaga stabilitas portofolio di tengah dinamika pasar.
Sebagai bagian dari strategi keuangan jangka panjang, reksa dana dapat menjadi salah satu instrumen investasi yang dipertimbangkan karena dikelola secara profesional oleh manajer investasi dengan menerapkan prinsip diversifikasi. (rpi)