news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Peternak memberi pakan domba berbahan limbah pertanian di kandang Koperasi Rimba Tani Sejahtera, Desa Bandungrejo, Bojonegoro, sebagai bagian dari Program Petani Hutan JTB..
Sumber :
  • tvOne - dewi rina

Dari Kebiasaan Membakar ke Ekonomi Sirkular, Kisah Petani Hutan di Sekitar Lapangan Gas JTB

Petani hutan di Bojonegoro mengolah limbah pertanian menjadi pakan domba dan kompos, sekaligus mengembangkan usaha koperasi melalui Program Petani Hutan JTB.
Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:07 WIB
Reporter:
Editor :

Bojonegoro, tvOnenews.com – Tumpukan sisa tanaman jagung, jerami, hingga kotoran ternak yang dahulu dianggap tidak memiliki nilai ekonomi kini mulai menjadi sumber penghasilan bagi warga Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Perubahan itu terlihat di Dusun Poh Wayang. Di sebuah kandang berukuran 15 x 6 meter, puluhan domba dipelihara secara kolektif oleh anggota Koperasi Produsen Rimba Tani Sejahtera. Pakan ternak tidak sepenuhnya bergantung pada hijauan segar, tetapi juga memanfaatkan limbah pertanian yang sebelumnya kerap dibakar setelah masa panen.

Sementara itu, kotoran domba yang terkumpul tidak lagi dibuang begitu saja. Limbah tersebut dibawa ke rumah produksi kompos untuk melalui proses fermentasi sebelum diolah menjadi pupuk organik dan media tanam yang memiliki nilai jual.

Bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan penghidupan pada lahan garapan hutan atau dikenal dengan sebutan pesanggem, perubahan tersebut membuka cara baru dalam mengelola hasil pertanian. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini dapat dimanfaatkan kembali, bahkan menjadi bagian dari kegiatan ekonomi kelompok.

Perubahan itu bukan sekadar mengenai cara mengolah sisa tanaman. Di baliknya terdapat upaya mengubah kebiasaan masyarakat yang telah berlangsung turun-temurun, sekaligus membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan dapat berjalan beriringan dengan meningkatkan kesejahteraan.

Sebelumnya, sebagian petani di Desa Bandungrejo terbiasa membakar sisa hasil pertanian ketika membuka lahan maupun setelah panen. Cara tersebut dianggap praktis untuk membersihkan lahan sebelum kembali digunakan pada musim tanam berikutnya.

Namun, kebiasaan itu memiliki risiko. Selain berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), asap pembakaran juga dikhawatirkan masuk ke kawasan fasilitas operasi Gas Processing Facilities (GPF) Jambaran-Tiung Biru (JTB).

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lahan garapan masyarakat berada di sekitar wilayah operasional fasilitas pengolahan gas. Pembakaran yang tidak terkendali berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan sekaligus mengganggu keselamatan dan keberlangsungan aktivitas operasi perusahaan.

Melihat kondisi tersebut, PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 mengembangkan Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) Biru Langit Jambaran-Tiung Biru melalui Program Petani Hutan JTB.

Berita Terkait

1
2 3 4 5 6 7 8 9 10 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:21
14:13
09:50
04:54
08:02
14:03

Viral