- Gambar ilustrasi AI
Gangguan Mata Kerap Tak Disadari, Teknologi Skrining Bantu Kenali Gejalanya Lebih Awal
Hasil skrining membantu mengenali kemungkinan masalah, sedangkan penentuan kondisi mata dan penanganan yang tepat membutuhkan evaluasi tenaga kesehatan sesuai kebutuhan masing-masing individu.
Teknologi juga dapat membantu memperluas edukasi. Selain aplikasi WHOeyes, berbagai program pemeriksaan berbasis komunitas memanfaatkan perangkat skrining untuk mendukung proses pemeriksaan awal.
Penggunaan teknologi tersebut tetap perlu disertai prosedur yang sesuai, petugas terlatih, serta rujukan apabila ditemukan indikasi gangguan penglihatan.
Dengan demikian, manfaat teknologi bukan sekadar mempercepat pemeriksaan. Nilai pentingnya terletak pada kemampuan memperluas jangkauan layanan, meningkatkan kesadaran, dan membantu masyarakat memperoleh tindak lanjut yang diperlukan.
Dari Edukasi Gawai hingga Pemeriksaan Mata Gratis di Tangerang
Pentingnya deteksi dini menjadi salah satu latar belakang kegiatan Bakti Sosial Pemeriksaan Mata Gratis bertema “Melihat Lebih Jelas, Berbagi Lebih Luas” yang diselenggarakan JEC Eye Hospitals and Clinics bersama Parent Teacher Association (PTA) Secondary Syafana Islamic School.
Program ini melanjutkan semangat World Sight Day 2026 yang diperingati bulan Oktober melalui kampanye global “Love Your Eyes”. Sebanyak 250–300 peserta menjadi sasaran kegiatan, mencakup tenaga pendidik dan staf sekolah, masyarakat sekitar yang membutuhkan terutama kelompok dhuafa, serta anak didik Atta’awun Educare Kampus Lengkong.
Peserta memperoleh skrining mata melalui EyeCheck, edukasi kesehatan penglihatan, dan kacamata gratis bagi yang membutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan. Materi edukasi mencakup penggunaan gawai secara bijak, pentingnya istirahat mata, menjaga jarak pandang, dan mengenali perubahan penglihatan.
Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiarjo, SpM(K), PhD, Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, menekankan bahwa kelainan refraksi dapat dialami anak-anak maupun orang dewasa dan kerap tidak disadari sejak awal.
“Kelainan refraksi, seperti mata minus, plus, dan silinder, dapat dialami siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kondisi ini kerap tidak disadari sejak awal, padahal dapat memengaruhi kenyamanan belajar, produktivitas, hingga kualitas hidup sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan pentingnya pemeriksaan berkala untuk mengenali gangguan penglihatan sedini mungkin. Pemeriksaan dapat diulang setiap enam bulan hingga satu tahun, menyesuaikan kondisi mata dan anjuran dokter.