- tvOnenews.com - Angelia Nafriana
Tak Cuma Santriwati Gadis, Ayah Korban Sebut Pelaku Pelecehan Ponpes Pati Juga Dekati Wanita Bersuami
tvOnenews.com - Kasus dugaan pelecehan di sebuah pondok pesantren kembali memunculkan fakta yang mengejutkan publik. Ayah salah satu korban membongkar awal mula rasa curiganya terhadap oknum kiai berinisial AS yang disebut memiliki perilaku tidak wajar terhadap para santriwati.
Tak hanya kepada santriwati gadis, ayah korban mengaku melihat adanya kedekatan yang dianggap melampaui batas dengan wanita yang sudah bersuami. Pengakuan tersebut sontak membuat publik semakin menyoroti dugaan perilaku menyimpang yang terjadi di lingkungan ponpes tersebut.
Dalam podcast milik Denny Sumargo yang tayang pada 7 Mei 2026, ayah korban mengungkap bahwa rasa curiganya muncul setelah sering melihat keakraban yang menurutnya tidak biasa antara oknum kiai dengan para santri maupun santriwati yang telah berkeluarga.
“Keakraban si kiai tadi sama santri santriwati yang sudah berkeluarga ya banyak. Jadi kesannya itu terlalu akrab lah gitu,” ujar ayah korban.
Menurutnya, situasi tersebut membuat dirinya mulai merasa ada sesuatu yang janggal di dalam lingkungan pesantren.
Ayah korban kemudian mengungkap dugaan lain yang menurutnya semakin menimbulkan tanda tanya besar. Ia menduga perempuan yang sudah memiliki suami juga kerap dipanggil ke kamar pribadi sang kiai dengan alasan tertentu.
“Wong di situ ya punya suami ya kadang dipanggil di kamarnya untuk mijet. Nemenin di kamar mijet. Entah itu mijet entah apa kan kalau kamar kan tertutup,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bentuk kecurigaan pribadi ayah korban berdasarkan apa yang ia lihat dan dengar selama anak-anaknya berada di lingkungan pesantren tersebut.
Tak hanya membahas soal dugaan perilaku oknum kiai tersebut, ayah korban juga mengungkap rasa kecewa mendalam yang dirasakannya sebagai orang tua.
Ia mengaku selama ini menaruh kepercayaan penuh kepada pesantren tersebut hingga menitipkan keempat anaknya untuk belajar agama di sana.
“Wah, kecewa kecewa. Soalnya saya sudah percaya penuh ya sama Pak ya itu bahwa di situ sampai anak saya empat itu saya taruh di situ semua,” ucap ayah korban.
Rasa kecewa itu semakin besar karena tujuan utamanya menyekolahkan anak di pondok pesantren adalah agar mendapat pendidikan agama dan akhlak yang baik.