- tvOnenews.com Edit / YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Tak Takut Disidak Dedi Mulyadi, Pengelola Tambang Liar Subang Malah Minta Difasilitasi Bayar Pajak Resmi
"Saya itu malah dulu sudah bikin NIB, tapi malah buntu," ungkap salah satu pengelola.
Frustrasi dengan sistem yang tidak berpihak, mereka akhirnya memilih membayar pungli kepada oknum aparat sebagai jalan keluar. Kini, kehadiran Dedi Mulyadi membuka harapan baru bagi mereka.
"Ya justru mau bayar pajak gimana caranya? Bapak siap mendampingi membantu?" tanya pengelola tambang.
"Ke sini saja. Makanya saya minta ke sini, nanti saya fasilitasi," jawab Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi berjanji memfasilitasi koordinasi dengan Dinas Pertanian, Lingkungan Hidup, dan Badan Pendapatan Daerah agar aktivitas penambangan bisa segera memiliki payung hukum yang jelas. Tujuannya agar pajak galian masuk ke kas daerah dan dimanfaatkan untuk memperbaiki infrastruktur jalan yang rusak, bukan masuk ke kantong oknum.
Ia menggambarkan visinya secara gamblang kepada para pengelola.
"Gubernur sudah diberi tahu, jalannya diberitahukan ke bupatinya, ke dinas lingkungan hidupnya, caranya seperti ini. Begitu kan, jalan yang dilalui ini kan rusak-rusak, ini Subang jalannya banyak yang rusak. Semoga saja di sini pajak dapat misalnya 500 juta, lumayan," ujar Dedi Mulyadi.
"Amin. Mudah-mudahan," sambut pengelola tambang.
Ia bahkan menawarkan skema kompensasi langsung berupa pembangunan jalan dari hasil pajak galian.
"Atau ada jalan yang paling bagus, dihitung berapa ya, dihitung berapa ini potensinya, langsung saja jalan oleh Akang kompensasinya, misalnya Pemda Kabupaten Subang berhak mendapat pajak nilainya sekian, misalnya nilainya Rp500 juta, Akang sudah, senilai 500 juta itu dibelanjakan, diizinkan jalan yang rusak langsung dibeton, bermanfaat," jelasnya.
"Amin," respons pengelola tambang.
"Kan bagus kan? Begitu, daripada ngiler-ngiler terus. Lumayan, setor tiap bulan Rp10 juta," lanjut Dedi Mulyadi.
"Lebih enak, lebih enak difasilitasi," jawab pengelola tambang.
Suasana sidak yang biasanya tegang justru berubah menjadi dialog terbuka dan penuh harapan. Para pengelola tambang bercerita panjang lebar soal beban pungli yang mereka tanggung selama ini, hingga akhirnya sampai pada satu kesimpulan.
"Kalau difasilitasi sama Bapak mah enak," ujar pengelola tambang.
Setelah mencurahkan seluruh keluh kesah soal praktik pungli yang membelit mereka, pengelola pun berterus terang, "Lebih baik saya bayar pajak."