- Kolase tvOne/Irfan & Tangkapan layar YouTube Dare Debil
Kisah Agen Polisi yang Lolos di Tragedi G30S PKI 1965, Sukitman Beri Kesaksian saat Temukan Lubang Buaya
"Saya berangkat menuju tempat suara tembakan itu menggunakan sepeda. Gencaran tembakannya sangat kencang membuat saya berhenti lalu turun dan melemparkan senjata. Kemudian, saya angkat tangan," terangnya.
Sukitman terpaksa dilempar ke dalam kabin sebuah mobil di tengah situasi yang begitu menegangkan. Ia hanya bisa pasrah lantaran pasukan pemberontak sangat banyak.
"Suasana tembakannya sangat gencar dan secara terus-menerus. Pasukannya banyak banget, ada yang menyerbu satu rumah, menyergap dari kanan belakang, mungkin ada lebih dari 100-200 orang," tuturnya.
Korban Penyekapan hingga Lihat Penyiksaan 7 Pahlawan Revolusi
Sukitman yang saat itu berada dalam kabin sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi. Posisi kepalanya telah tertutup seperti korban penyekapan.
Ia saat itu masih berusia 22 tahun. Hal ini membuat ia dibawa menggunakan mobil seperti bus ke area Lubang Buaya. Selepas itu, ikatan di kepalanya dibuka hingga dirinya diseret secara paksa.
"Saat itu samar-samar saya mendengar, 'Yani'," ucapnya.
Dikutip tvOnenews.com dari buku miliknya berjudul "Kesaksian Sukitman Penemu Sumur Lubang Buaya", di momen inilah Sukitman berbagi kisah sebagai saksi kekejaman para anggota Gerakan 30 September 1965 PKI.
Pria berusia 22 tahun ini melihat secara jelas banyak orang sebagai sukarelawan dan sukarelawati yang berpenampilan seperti ABRI. Mereka membantu anggota Resimen Cakrabirawa dipimpin oleh Letkol Untung Syamsuri.
Pada momen tersebut, tujuh Pahlawan Revolusi dibantai oleh Pasukan Cakrabirawa. Bahkan, Sukitman menjadi saksi satu per satu jasad enam jenderal dan satu perwira ditumpuk ke dalam sumur Lubang Buaya.
"Kata-kata kapitalis, 'Ganyang kabir, ganyang kabir'. Satu per satu lalu dimasukkan. Orang yang masuk duluan juga sambil ditembak dari atas. Kalau yang masih hidup, dia diikat, ditodong senjata dari kanan-kiri dan dipaksa menandatangani sesuatu meski akhirnya berontak," jelasnya.
Sukitman mengaku stress dalam situasi tersebut. Ia lagi-lagi hanya bisa pasrah karena berpikir dirinya juga menjadi korban serupa seperti ketujuh jenderal Indonesia tersebut.
"Hati saya waktu itu enggak karuan lagi, mungkin giliran saya saat itu lantaran (Pahlawan Revolusi) saat itu secara bergiliran masuk ke dalam sumur," paparnya.