- Tangkapan layar instagram
WOW! NVIDIA Pamer Robot Bebek AI Seharga Rp6 Jutaan, Bisa Duduk, Tidur, hingga Bangkit Sendiri
tvOnenews.com - Bayangkan sebuah robot berbentuk bebek setinggi botol minum yang dapat berjalan, duduk, merebahkan diri seolah tidur, hingga bangkit kembali setelah terjatuh.
Bukan sekadar mainan mekanis yang bergerak mengikuti pola tetap, robot mungil ini menjadi contoh bagaimana kecerdasan buatan (AI) mulai diterapkan untuk mengendalikan gerakan mesin di dunia nyata.
Robot bernama MicroDuck tersebut mencuri perhatian saat CEO NVIDIA Jensen Huang memperkenalkannya dalam konferensi NVIDIA GTC Berlin, Jerman, pada 21 Oktober 2026.
Dalam demonstrasi tersebut, Huang menunjukkan bagaimana agen AI yang berjalan pada RTX Spark dapat mendukung proses pelatihan robot buatan Pollen Robotics, perusahaan robotika asal Prancis yang berada di bawah Hugging Face.
Teknologi NVIDIA digunakan untuk melatih perilaku robot melalui simulasi sebelum diterapkan pada perangkat fisik.
Yang membuat MicroDuck menarik bukan hanya bentuknya yang menggemaskan. Dengan harga awal US$399 atau sekitar Rp6,2 juta berdasarkan perkiraan kurs, robot setinggi 25 sentimeter ini dirancang sebagai perangkat open-source yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh komunitas.
Artinya, pengembang tidak hanya bisa menikmati gerakannya, tetapi juga bereksperimen menciptakan perilaku baru menggunakan perangkat lunak, simulasi, dan metode pembelajaran AI.
Dari Berjalan hingga Tidur, Begini Aksi Robot AI MicroDuck
Dalam demonstrasi di panggung GTC Berlin, Jensen Huang memperlihatkan kemampuan MicroDuck melakukan sejumlah gerakan, mulai dari berjalan dengan gaya bergoyang, duduk, merebahkan tubuh seolah tidur, hingga berguling dan kembali berdiri.
Meski demonstrasi di panggung tidak seluruhnya berjalan mulus, penampilan tersebut memperlihatkan potensi AI dalam mengendalikan gerakan robot secara lebih fleksibel.
MicroDuck dikembangkan Pollen Robotics bersama ekosistem Hugging Face. Robot ini memiliki tinggi sekitar 25 sentimeter dan berat kurang dari 800 gram.
Perangkat tersebut dilengkapi 15 motor, kamera depan, sensor LiDAR untuk mengukur kedalaman, serta dua sensor gerak inersia atau IMU.
Kombinasi perangkat keras tersebut membantu robot mengamati lingkungan dan mengoordinasikan gerakan tubuhnya. MicroDuck juga dirancang untuk mengambil objek menggunakan paruh mekanisnya serta memulihkan posisi setelah mengalami sejumlah jenis jatuh.
Namun, kemampuan itu tidak berarti MicroDuck dapat memahami semua instruksi manusia seperti robot serbaguna dalam film fiksi ilmiah. Perilakunya bergantung pada sistem kontrol, model AI, serta kemampuan yang telah dilatih dan diterapkan oleh pengembang.
Dalam demonstrasi NVIDIA, agen AI menjadi bagian dari alur kerja yang memungkinkan pengembang mengelola proses pelatihan robot. Sistem ini memperlihatkan bagaimana instruksi dan perangkat lunak AI dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan fisik mesin.
- Tangkapan layar instagram
RTX Spark, Omniverse, dan Isaac Lab Bantu Melatih Robot
Di balik gerakan MicroDuck, terdapat proses pelatihan yang menggabungkan komputasi AI dan simulasi. NVIDIA menunjukkan penggunaan RTX Spark bersama sejumlah teknologi robotika, termasuk Omniverse, Isaac Sim, dan Isaac Lab.
Melalui simulasi, pengembang dapat menguji perilaku robot dalam lingkungan virtual sebelum menerapkannya pada perangkat sungguhan. Pendekatan ini membantu proses eksperimen karena pengembang tidak harus mengulang setiap percobaan menggunakan robot fisik.
Salah satu metode yang dapat digunakan adalah reinforcement learning atau pembelajaran penguatan. Dalam pendekatan ini, sistem belajar melalui interaksi, umpan balik, dan pengulangan untuk menemukan tindakan yang menghasilkan perilaku sesuai tujuan.
CEO Hugging Face, Clem Delangue, menekankan tujuan menghadirkan robot yang lebih terjangkau dan terbuka bagi komunitas pengembang.
"Selamat datang di era robot terjangkau bersumber terbuka untuk mendemokratisasi AI fisik dan model dunia!" ujar Clem Delangue, dikutip dari The Verge melalui pemberitaan TechCrunch.
Konsep physical AI sendiri mengacu pada penerapan kecerdasan buatan pada mesin yang berinteraksi dengan lingkungan nyata, termasuk robot. Berbeda dari AI yang hanya menghasilkan teks atau gambar, sistem ini harus memperhitungkan gerakan, keseimbangan, sensor, dan kondisi fisik di sekitarnya.
Ketersediaan perangkat lunak open-source memungkinkan pengembang mempelajari kode, mengubah perilaku, dan berbagi hasil eksperimen. Meski demikian, keterbukaan perangkat lunak tidak otomatis menghilangkan kebutuhan terhadap pengetahuan pemrograman, perangkat pendukung, maupun komputasi untuk melatih model yang lebih kompleks.
Harga US$399 dan Chip Rockchip, Apa yang Membuatnya Menarik?
MicroDuck ditawarkan dengan harga awal US$399 sebelum pajak dan ongkos pengiriman. Pollen Robotics membuka pemesanan awal pada Agustus 2026, dengan pengiriman pertama ditargetkan sebelum Natal 2026.
Di dalamnya terdapat prosesor RK3566 buatan Rockchip, perusahaan semikonduktor asal China, yang dipadukan dengan akselerator AI. Menurut spesifikasi yang dipublikasikan Pollen Robotics, perangkat ini memiliki kapasitas akselerasi AI sekitar 1 TOPS untuk mendukung pemrosesan tertentu langsung di perangkat.
Pemrosesan lokal dapat membantu menjalankan fungsi seperti visi komputer tanpa harus selalu mengirimkan seluruh data sensor ke layanan cloud. Namun, tidak semua pekerjaan AI dapat ditangani oleh chip tersebut. Pelatihan model yang lebih berat tetap dapat membutuhkan perangkat komputasi eksternal.
Kombinasi perangkat terjangkau dan perangkat lunak terbuka membuat MicroDuck relevan untuk eksperimen robotika, pembelajaran mesin, serta pengembangan perilaku robot. Bagi pelajar, peneliti, dan pengembang independen, perangkat seperti ini berpotensi menjadi sarana memahami bagaimana model AI diterjemahkan menjadi gerakan fisik.
Perkembangan ini juga berlangsung setelah NVIDIA mengumumkan kesepakatan akuisisi Hugging Face senilai sekitar US$12,93 miliar pada September 2026. NVIDIA menyatakan Hugging Face akan tetap menjadi platform terbuka bagi ekosistem AI.
Pada akhirnya, MicroDuck bukan hanya robot bebek yang mampu melakukan gerakan menghibur. Daya tarik utamanya terletak pada upaya menggabungkan AI, simulasi, perangkat keras yang relatif terjangkau, dan teknologi open-source agar semakin banyak orang dapat bereksperimen dengan robot cerdas.
Demonstrasi NVIDIA di Berlin memperlihatkan salah satu arah perkembangan physical AI: bukan hanya membuat mesin bergerak, tetapi membuka kesempatan bagi pengembang untuk mengajarkan kemampuan baru kepada mesin tersebut. (udn)