news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Nathalie Holscher, TikToker Polisi Anak 84, dan Pratiwi Noviyanthi alias Teh Novi.
Sumber :
  • Kolase Instagram/@nathalieholscher & TikTok/@polisianak84 & Tangkapan layar YouTube Pratiwi Noviyanthi

Viral Nathalie Holscher hingga Pratiwi Noviyanthi Takuti Anak Lewat Tren Konten Polisi Anak, Psikolog Ingatkan Bahayanya

Psikolog Okina Fitriani ungkap bahaya video viral Nathalie Holscher hingga Pratiwi Noviyanthi pakai jasa tren konten polisi anak 84 untuk menakuti anaknya.
Minggu, 25 Oktober 2026 - 15:01 WIB
Reporter:
Editor :

Ia merincikan poin parenting by lying. Praktik berbohong untuk mengatur emosi atau perilaku anak dan bermain secara imajinatif merupakan dua hal yang berbeda.

"Dalam prank polisi palsu, anak justru diminta mempercayai situasi yang sengaja dibuat tampak nyata, lalu dimasukkan ancaman untuk mengubah perilaku," lanjut dia.

Merujuk penemuan dari hasil penelitian Setoh dan kolega (2020 dan 2024), mereka yang mengingat lebih banyak kebohongan orang tua pada masa kecil juga melaporkan lebih banyak berbohong dalam kehidupannya.

Situasi ini membuat kebohongan dianggap hal yang wajar dan value kejujuran tidak tertanam. Selain itu, anak yang sering dibohongi mengalami persoalan penyesuaian psikososial seperti agresif, intrusif dan manipulative.

"Dampaknya orang tua menjadi sulit mengajarkan kejujuran secara konsisten jika pada saat yang sama menjadikan kebohongan sebagai alat pengendalian," ucapnya.

Kepatuhan Anak Lewat Konten Polisi Palsu Bukan Ukuran Keberhasilan Pendidikan

Lebih lanjut, ia menyoroti ancaman dapat menghasilkan kepatuhan. Dalam video viral itu, anak mungkin berhenti menangis, langsung makan, atau berjanji tidak mengulangi perilaku yang tidak disukai orang tuanya.

Bagi Okina, kepatuhan bukan ukuran keberhasilan pendidikan. Hal yang lebih penting adalah apakah anak secara bertahap memahami alasan sebuah aturan, sanggup meregulasi emosi, dan mampu mengambil keputusan yang lebih baik, tanpa harus terus-menerus diawasi.

"Yang lebih berbahaya lagi jika masalah makan, gerakan dan mengompol bersifat ganguan biologis, sensori atau struktur tubuh. Setelah berhenti sesaat karena reaksi terancam, selanjutnya malah akan menjadi lebih parah," tambahnya.

Ia mengatakan, ancaman tersebut membuat perhatian anak dapat menyempit pada upaya menghindari bahaya. Biasanya anak berfokus pada satu hal, yakni "bagaimana agar ancaman berhenti?".

"Tangisan dan janji di hadapan 'polisi' tidak dapat serta-merta ditafsirkan sebagai penyesalan yang matang atau pemahaman moral. Pengendalian perilaku melalui tekanan psikologis memiliki dampak masalah emosi di usia dewasa yang akhirnya kemampuan menganalisa masalah menjadi rendah walaupun tampak menghasilkan perilaku yang diharapkan," katanya.

(hap)

 

Berita Terkait

1
2
Tampilkan Semua

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:02
14:03
08:06
08:08
08:29
08:13

Viral