- Kolase tangkapan layar YouTube Al-Bahjah TV & ANTARA
Bicara Konflik Iran Serang Israel, Buya Yahya Singgung Kehebohan Syiah yang Bela Palestina Habis-habisan: Ada Orang...
Jakarta, tvOnenews.com - KH Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya akhirnya berbicara tentang konflik antara Iran dan Israel.
Buya Yahya menyoroti persoalan sikap mendukung Iran dikenal menjunjung keyakinan Syiah sebagai golongan berani memborbardir Israel.
Buya Yahya memahami akidah Syiah membuat masyarakat Iran dianggap menyimpang, tetapi satu sisi mereka mendukung Palestina bebas dari penjajahan Israel.
Dalam hal ini, Buya Yahya menyikapi dukungan umat Islam terhadap Iran memborbardir Israel jangan dikaitkan dengan urusan akidah.
"Perbedaan urusan keyakinan ini berbeda. Hari ini bukan waktunya kita bicara itu, dan kita sudah terlambat bersama-sama meyakini Israel adalah musuh kita bersama dan telah menodai kemanusiaan," kata Buya Yahya dalam suatu ceramahnya dilansir dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, Minggu (22/6/2025).
- APTN
Konflik Iran dan Israel, menurut Buya Yahya, tidak hanya sekadar persoalan urusan agama, tetapi ada embel-embel pengaruh membela Palestina.
Pendakwah karismatik itu menegaskan pihak yang berpegang teguh untuk mendukung kemerdekaan Palestina wajib didukung bersama-sama.
"Sekarang dukungan keluar bukan dari orang yang mengaku Islam saja, di luar Islam pun banyak dukungan untuk orang Palestina," tegasnya.
Menurut informasi terkini, genosida Israel sejak Oktober 2023 terakhir kali telah menewaskan lebih dari 55 ribu warga Palestina.
Akibat kekejaman Israel, perlakuan kepada warga Palestina akhirnya direspons langsung dengan serangan Iran.
Cara mendukung Iran tidak sekadar langsung ikut berperang, namun mengoptimalkan dari niat untuk membela agama Islam.
"Yang jelas kita ingin memberikan pelajaran kepada dunia, biarpun dari niat dan kemampuan kita untuk memberitahu orang-orang zalim seperti ada di Israel harus dihentikan," jelasnya.
Kezaliman Israel yang melakukan genosida kepada Palestina khususnya warga Gaza telah melewati batas nilai kemanusiaan.
Beberapa negara khususnya Iran yang mengecam tindakan Israel dianggap peduli menjunjung tinggi kemanusiaan dan sebagai pejuang dunia.
"Jadi, jangan sampai gara-gara berbeda keyakinan lalu menjadi kita tidak tahu ada musuh bersama yang membahayakan dunia, karena urusan Palestina bukan urusan agama, tapi (Israel) kejahatan kepada kemanusiaan," bebernya.
Walaupun ada urusan agama, namun mereka yang peduli terhadap warga Palestina telah memiliki nati nurani dan menolak kekejaman Israel.
Penderitaan warga Palestina membuat dunia bersatu dan tidak memandang etnis dan agama apapun karena berkaitan dengan kemanusiaan.
"Yang aneh hari ini ada orang justru merendahkan orang yang ingin membela Palestina bahkan jadi bahan guyonan, hati-hati itu tidak punya perasaan," tuturnya.
Pengasuh LPD Al-Bahjah itu tak habis pikir kepada mereka yang mengaku umat Islam, tetapi saling merendahkan sesama Muslim.
Menurut Buya Yahya, bagi pihak yang mendukung tersebut maka dipastikan mereka telah tertawa di atas musibah penderitaan warga Palestina.
"Lho, Anda ini siapa? Saya tidak bicara tentang mereka yang tidak hati nurani, saya bicara pada Anda yang selama ini punya hati nurani, bagimana perasaan Anda?," tanya dia.
Persoalan akidah Syiah dianggap menyimpang, saat ini dunia punya tugas bersama-sama bagaimana membuat warga Palestina kembali merdeka.
"Nanti bedanya kalau seorang Muslim punya tingkatan lagi di samping karena ada urusan batin nurani kemanusiaan, kita orang beriman karena Allah SWT," tukasnya.
Eskalasi konflik Timur Tengah mencuri perhatian pasca Israel menyerang fasilitas nuklir Iran menyebabkan lebih dari 220 orang tewas.
Atas serangan udara pada Jumat (13/6/2025), Iran langsung membalas melayangkan rudal ke wilayah Israel dengan skala besar.
Kantor berita IRNA menyampaikan laporan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, bahwa Iran terus menggempur Israel.
Akibat Israel luluh lantak, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melaporkan pihaknya telah mengebom tiga lokasi nuklir di Iran, Minggu (22/6/2025).
(hap)