news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

ilustrasi mengucapkan selamat natal.
Sumber :
  • Pexels/Gustavo Fring

Mengucapkan Selamat Natal pada Atasan untuk Formalitas, Bagaimana Hukumnya? Begini Penjelasan Ustaz Abdul Somad

Mengucapkan selamat Natal pada atasan untuk formalitas bagaimana hukumnya? Begini penjelasan Ustaz Abdul Somad.
Rabu, 24 Desember 2025 - 15:50 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Menjelang perayaan Natal, sebagian umat Islam kerap dihadapkan pada dilema sosial, terutama di lingkungan kerja. 

Salah satu situasi yang sering terjadi adalah kewajiban tidak tertulis untuk mengucapkan selamat Natal kepada atasan atau rekan kerja nonmuslim. 

Niatnya pun beragam, mulai dari menjaga hubungan profesional hingga menghindari anggapan sombong atau tidak toleran. 

Namun, bagaimana sebenarnya hukum mengucapkan selamat Natal dalam pandangan Islam?

Ucapan Selamat Natal
Sumber :
  • tvOnenews.com - Angelia Nafriana

Pertanyaan ini pernah disampaikan dalam salah satu kajian yang diisi oleh Ustaz Abdul Somad (UAS). Seorang jamaah mengungkapkan kegelisahannya terkait tekanan sosial di tempat kerja.

Dalam pertanyaan tersebut, jamaah itu bertanya, apa hukumnya mengucapkan selamat Natal kepada atasan, meski sebenarnya tidak menginginkannya, namun takut dianggap sombong atau tidak menghargai.

Menanggapi hal tersebut, Ustaz Abdul Somad menyampaikan jawaban yang tegas sekaligus mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali makna keimanan dan keberanian dalam bersikap.

"Takut dianggap sombong atasan atau takut dibilang kafir sama Allah SWT?" ujar Ustaz Abdul Somad.

Ustaz Abdul Somad kemudian menyoroti prioritas rasa takut yang seharusnya dimiliki seorang muslim dalam kehidupannya.

"Berarti tak betul ucapan kita Allahu Akbar. Ada yang lebih besar lagi, atasan afwan," lanjutnya.

Potret Ustaz Abdul Somad
Sumber :
  • Tangkapan Layar YouTube Ustadz Abdul Somad Official

Lebih lanjut, UAS menjelaskan bahwa mengucapkan selamat Natal bukan sekadar ucapan biasa, tetapi memiliki konsekuensi akidah yang serius menurut pandangan Islam. Ia memaparkan setidaknya ada tiga konsekuensi yang terkandung dalam ucapan tersebut.

"Ketika kau mengucapkan selamat natal, berarti ada tiga konsekuensi. Pertama, kau sudah mengatakan Isa AS lahir pada 25 Desember, padahal dia tidak lahir 25 Desember, kau juga mengatakan Isa AS mati disalip, padahal Al-Quran mengatakan dia tidak mati karena disalib, ketiga ketika kau mengatakan selamat natal berarti sama artinya dengan Isa adalah anak Tuhan, naudzubillah," jelasnya.

Penjelasan ini menegaskan bahwa dalam Islam, Nabi Isa AS memiliki kedudukan sebagai nabi dan rasul Allah, bukan sebagai anak Tuhan. 

Oleh karena itu, mengucapkan selamat Natal dipandang berkaitan langsung dengan pengakuan terhadap ajaran teologis yang berbeda dengan keyakinan Islam.

Meski demikian, sikap tidak mengucapkan selamat Natal bukanlah bentuk intoleransi. 

Toleransi sejati justru terletak pada saling menghormati keyakinan masing-masing tanpa harus melanggar ajaran agama sendiri.

Dengan demikian, umat Islam yang memilih untuk tidak mengucapkan selamat Natal seharusnya tidak dicap sebagai pribadi yang tidak toleran. 

Sebaliknya, sikap tersebut merupakan bentuk konsistensi dalam menjaga akidah, sembari tetap menjunjung tinggi etika sosial, sopan santun, dan hubungan baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun di lingkungan kerja. (gwn)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:05
01:27
12:44
15:36
06:26
05:03

Viral