news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi munggahan dalam menyambut puasa di bulan Ramadhan.
Sumber :
  • iStockPhoto/.shock

Mengadakan Munggahan Sebelum Puasa Ramadhan, Bagaimana Hukumnya dalam Agama Islam?

KH Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya mengupas tuntas hukum munggahan sebelum masuk puasa di bulan Ramadhan. Menurutnya, budaya tersebut tidak ada masalah.
Rabu, 18 Februari 2026 - 12:57 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Sebagian masyarakat Indonesia memiliki tradisi "munggahan". Hal itu akan terjadi salah satunya menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan.

Tradisi munggahan memiliki macam bentuk dalam persiapan menyambut puasa di bulan Ramadhan. Ada yang mengadakan makan bersama, menyembelih hewan, silaturahmi keluarga, hingga ziarah kubur.

Di balik itu, tradisi munggahan menimbulkan kekhawatiran sebagian umat Muslim. Ada yang berpendapat bahwa hukum munggahan adalah kegiatan yang melampaui batas syariat agama Islam.

Desas-desus hukum munggahan menjelang puasa Ramadhan dijelaskan oleh pendakwah ternama, KH Yahya Zainul Ma'arif alias Buya Yahya. Menurutnya, munggahan sebelum masuk Ramadhan tidak ada masalah.

"Itu hal yang baik. Berarti, kampung tersebut mendapat taufik dari Allah, diberi oleh Allah bimbingan untuk melakukan sesuatu yang memang hendaknya seperti itu," ujar Buya Yahya dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube Al-Bahjah TV, Rabu (18/2/2026).

Kenapa Hukum Munggahan Menjelang Ramadhan Diperbolehkan?

Ilustrasi Ziarah Kubur
Sumber :
  • ANTARA

Buya Yahya menjelaskan alasan hukum munggahan tidak dipermasalahkan dalam agama Islam. Hanya saja hal itu berlaku jika tak ada unsur yang melampaui syariat agama Islam.

Ia mencontohkan apabila munggahan tersebut tidak dipermasalahkan. Kegiatan sederhananya mengadakan munggahan dengan tujuan untuk melakukan amal kebaikan.

"Selagi hal tersebut tidak sertai dengan keyakinan-keyakinan yang bertentangan dengan syariat, misalnya tentang urusan roh-roh dan lain sebagainya. Akan tapi, hanya untuk berbagi dan sedekah maupun sebagainya ya nggak ada masalah," jelas Buya Yahya.

Ia memahami banyak sekali wilayah atau warga di perkampungan selalu menjalankan tradisi bermacam-macam. Tujuan mereka mengadakan kegiatan keagamaan tersebut dinilai sebagai menjaga tradisi dan nilai leluhurnya.

Merujuk dari buku Budaya Makan dalam Perspektif Kesehatan karya Toto Sudargo, dkk, tradisi munggahan memiliki historis. Kemunculannya berasal dari hasil akulturasi antara budaya Jawa, Melayu Palembang, dan nilai-nilai Islam.

Munggahan terjadi karena menjadi saran melantunkan doa kepada orang telah meninggal dunia. Tradisi ini juga sebagai cara menguatkan hubungan dan interaksi sosial antarwarga.

Rangkaian ziarah kubur dan berbagi makanan menjadi ciri khas tradisi munggahan paling kental menjelang Ramadhan. Meski demikian, hal ini bukanlah waktu dan hal dikhususkan dalam syariat agama Islam.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:38
08:11
03:01
01:30
04:46
05:55

Viral