Peringatan MSCI Itu Bagus Untuk Ekosistem Pasar Modal Indonesia
- Istimewa
tvOnenews.com - Lembaga Peneliti Independen menilai kemarahan perusahaan penyedia indeks pasar saham, data, dan analisis riset investasi global (Morgan Stanley Capital International (MSCI) justru bagus untuk ekosistem pasar modal di Indonesia.
Direktur Ekonomi Evident Institute Rijadh Djatu Winardi menilai keputusan MSCI tersebut ibarat obat yang pahit namun menyehatkan karena bertujuan mengurangiāÆindex turnoverāÆsekaligus menekan risiko investability di pasar Indonesia.
āMereka memberi ruang bagi otoritas domestik untuk menghadirkan perbaikan, khususnya dalam aspek transparansi. Dan ini kan bukan kali pertama MSCI memberikan masukan bagi pasar modal Indonesia. Di bulan Oktober 2025, MSCI sudah meminta perbaikan data emiten,ā tuturnya, Rabu (28/1)Ā
Saat itu, lanjutnya, MSCI meminta agar pelaku pasar terkait penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan dalam menghitung free float saham emiten.Ā
āPermintaan itu disampaikan secara terbuka. Jika sekarang tidak dipatuhi ya wajar mereka ngambek. Dan ngambeknya kan dilakukan secara terbuka dan jelas. Jadi ketika ada rencana pembekuan sementara sejumlah perubahan indeks untuk saham-saham Indonesia. Harusnya kita tak perlu kaget!,ā tegasnya.
Seperti diketahui MSCI pada 28 Januari 2026 mengumumkan sejumlah hal a.l. pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), pembekuan perubahan pada Number of Shares (NOS), penundaan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) dan Pembekuan perpindahan saham antar segmen indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.Ā
Rijadh menilai MSCI sebagai lembaga pemeringkat menyoroti sejumlah hal seperti kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham, kekhawatiran adanya perdagangan terkoordinasi dan potensi gangguan dalam pembentukan harga yang wajar.
āSecara tak langsung MSCI menyoroti fenomena saham gorengan di pasar modal kita. Hal yang sebetulnya sudah menjadi perhatian banyak pihak karena rentan membuat penurunan tingkat kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia,ā tuturnya. Ā Ā
Kebijakan MSCI berdampak secara langsung terhadap sejumlah saham milik konglomerat dan Big Caps a.l Kelompok bisnis milik Prajogo Pangestu yaitu Barito yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT)āÆyang turun hingga Auto Reject Bawah (ARB) 14,81% ke Rp2.300 sementara PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN)āÆmelemah hingga 11,84% ke Rp8.375.Ā
Kemudian bisnis milik Prajogo Pangestu yang lain Grup Chandra Asri yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)āÆterkoreksi 5% ke Rp6.650 sedangkan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA)āÆanjlok 12,14% ke Rp1.230.Ā
Kelompok Bakrie, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)āÆturun 11,58% ke Rp1.145 sedangkan PT Bumi Resources Tbk (BUMI)āÆmelemah 14,53% ke Rp294, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)āÆturun 9,42% ke Rp125 dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)āÆmenyentuh ARB 14,97% ke Rp1.420.Ā
Kelompok āHappyā Hapsoro Sukmonohadi yakni PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA)āÆturun ARB 15% ke Rp1.445, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA)āÆmelemah 15% ke Rp4.590, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU)āÆanjlok 14,97% ke Rp6.250.Ā
Kelompok Sugianto Kusuma alias Aguan yakni PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)āÆterkoreksi 14,89% ke Rp9.575 dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK)āÆturun 14,68% ke Rp6.250Ā
MSCI menegaskan jika sampai Mei 2026 tidak ada perbaikan transparansi yang signifikan maka mereka akan mengurangi bobot (weighting) seluruh saham Indonesia, dan menurunkan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.Ā
Hal ini dianggap sebagai perhatian untuk aspek governansi dan transparansi di bursa Indonesia sehingga sudah seharusnya Pemerintah dan otoritas pasar Indonesia menindaklanjuti keputusan MSCI. Misalnya melalui koordinasi lintas sektoral BEI, OJK, dan KSEI untuk memikirkan bagainana transparansi data nominee dan berdialog dengan MSCI,ā tuturnya.
Dengan langkah tersebut, lanjutnya, seharusnya dapat memulihkan persepsi investabilitas pasar modal Indonesia dan mengurangi dampak negatif terhadap IHSG. āSekali lagi kemarahan MSCI ini jika ditanggapi dengan baik, akan memberikan hal yang baik bagi Indonesia,ā pungkasnya.(chm)
Load more