Forum ISSF Nilai BoP Berpotensi Perkuat Tata Kelola Perdamaian Global
- Istimewa
Tangerang Selatan, tvOnenews.com - Indonesia South-South Foundation (ISSF) menggelar forum bertajuk 'Board of Peace, Board of Uncertainty' yang berlagsung di ABN Connect, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Forum tersebut menilai kehadiran BoP sebagai langkah potensial dalam memperkuat tata kelola perdamaian global di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.
International Law Observer, Muhammad Arbani, menegaskan bahwa kehadiran Board of Peace membuka peluang baru dalam diplomasi internasional berbasis kolaborasi.
“Board of Peace menunjukkan bahwa komunitas global terus mencari pendekatan baru dalam merespons konflik yang semakin kompleks,” ujar Arbani, Kota Tangsel, Rabu (18/3/2026).
Ia juga mengaitkan keberadaan BoP dengan United Nations Security Council Resolution 2803 yang menjadi dasar pengakuan lembaga tersebut.
“Sesuai dengan United Nations Security Council Resolution 2803, Board of Peace lahir dari keinginan komunitas global untuk menciptakan perdamaian di Gaza. Tujuan utamanya adalah membangun stabilitas keamanan, mendorong pemulihan ekonomi, serta mempercepat pembangunan infrastruktur yang rusak akibat konflik,” jelasnya.
Arbani menambahkan bahwa dampak awal dari upaya tersebut mulai dirasakan di lapangan.
“Eskalasi serangan di Gaza telah menurun signifikan. Masyarakat bahkan sudah dapat menjalankan aktivitas seperti berbuka puasa tanpa dibayangi ancaman serangan. Namun, kita perlu memahami bahwa proses perdamaian dan pemulihan membutuhkan waktu,” lanjutnya.
Sementara itu, Board of Advisor ISSF, Khairy Fuady menegaskan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang intelektual untuk memperkaya perspektif terkait diplomasi perdamaian global.
“Forum ini menjadi wadah untuk memahami perkembangan terbaru dalam diplomasi internasional. Board of Peace harus dilihat sebagai bagian dari upaya kolektif dunia dalam menjaga stabilitas global,” ujarnya.
Dalam pengantar diskusi, Muhammad Makmun Rasyid dari Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama menyoroti pentingnya diplomasi lintas pihak, termasuk dengan pihak yang memiliki sejarah konflik.
“Dalam tradisi Islam, diplomasi dengan pihak berbeda bukan hal baru. Perjanjian Hudaibiyah menjadi contoh bahwa negosiasi adalah strategi untuk mencapai kemaslahatan yang lebih besar,” jelasnya.
Dari perspektif kebijakan global, Director of Security and Defense ISSF, Fathira Salsabila, menekankan peran Indonesia dalam mendorong penyelesaian konflik secara damai.
Load more