Waspada, Dampak Kekerasan pada Anak Bisa Seumur Hidup! Kenali Bentuk, Tanda, dan Cara Mencegahnya
- Ilustrasi AI
Akibat yang ditimbulkan tidak hanya berupa memar atau luka lecet. Dalam kasus yang lebih berat, korban dapat mengalami patah tulang, perdarahan internal, luka bakar serius, bahkan kematian.
Banyak pelaku berdalih tindakan tersebut dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Padahal, penelitian menunjukkan hukuman fisik justru meningkatkan risiko trauma psikologis, gangguan perilaku, dan hubungan yang buruk antara anak dengan orang tua.
2. Kekerasan Psikologis atau Emosional
Jenis kekerasan ini sering kali tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dampaknya dapat bertahan hingga dewasa.
Bentuk kekerasan emosional meliputi penghinaan, bentakan, ancaman, mempermalukan anak, memberi label negatif, hingga perundungan atau bullying.Â
Anak yang terus-menerus menerima perlakuan tersebut berisiko kehilangan rasa percaya diri dan merasa dirinya tidak berharga.
Korban biasanya menunjukkan gejala seperti menarik diri dari lingkungan sosial, mudah cemas, sering menangis, takut berinteraksi dengan orang lain, hingga mengalami depresi.
3. Kekerasan Seksual dan Penelantaran
Kekerasan seksual mencakup segala aktivitas seksual yang melibatkan anak, baik kontak fisik maupun nonfisik.Â
Contohnya memperlihatkan konten pornografi kepada anak, memaksa anak melakukan aktivitas seksual, hingga pelecehan dan pemerkosaan.
Selain itu, terdapat pula kekerasan sosial berupa penelantaran dan eksploitasi. Orang tua atau pengasuh yang tidak memenuhi kebutuhan dasar anak seperti pendidikan, kesehatan, nutrisi, dan kasih sayang juga termasuk melakukan kekerasan.
Contohnya adalah membiarkan anak putus sekolah, tidak memberikan perawatan medis saat sakit, atau memaksa anak bekerja demi keuntungan ekonomi keluarga.
Dampak Kekerasan Anak Tidak Hanya Terjadi Saat Ini
Para ahli menyebut dampak kekerasan terhadap anak dapat berlangsung hingga puluhan tahun setelah peristiwa terjadi.
Gangguan Emosi dan Mental
Korban kekerasan lebih rentan mengalami depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), gangguan tidur, hingga keinginan menyakiti diri sendiri.
Dalam artikel The Long-Term Impact of Child Abuse yang dipublikasikan oleh psikolog Gil (2018), disebutkan bahwa pengalaman kekerasan pada masa kecil dapat memengaruhi harga diri seseorang hingga dewasa.
Gangguan Perkembangan Otak
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Development and Psychopathology (Jedd et al., 2015) menemukan bahwa kekerasan pada masa kanak-kanak dapat mengubah konektivitas fungsi amigdala, bagian otak yang berperan dalam pengaturan emosi dan respons terhadap stres.
Load more