News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Waspada, Dampak Kekerasan pada Anak Bisa Seumur Hidup! Kenali Bentuk, Tanda, dan Cara Mencegahnya

Kekerasan pada anak tidak hanya berupa pukulan. Kenali berbagai bentuk kekerasan anak, dampaknya terhadap kesehatan mental dan fisik, serta cara mencegahnya menurut WHO
Rabu, 17 Juni 2026 - 05:00 WIB
Ilustrasi Waspada, Dampak Kekerasan pada Anak Bisa Seumur Hidup! Kenali Bentuk, Tanda, dan Cara Mencegahnya
Sumber :
  • Ilustrasi AI

tvOnenews.com - Anak merupakan aset paling berharga bagi masa depan bangsa. Kualitas generasi mendatang sangat ditentukan oleh bagaimana lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat memberikan perlindungan selama masa tumbuh kembang mereka. 

Sayangnya, di tengah berbagai upaya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak, kasus kekerasan masih menjadi persoalan serius yang terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kekerasan terhadap anak tidak selalu terlihat dalam bentuk luka fisik. Banyak kasus terjadi secara tersembunyi melalui hinaan, ancaman, penelantaran, hingga eksploitasi yang meninggalkan dampak psikologis jangka panjang. 

Bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, perlindungan anak masih menjadi isu utama karena tingginya laporan kasus kekerasan dan pengabaian terhadap anak.

Data terbaru dari World Health Organization (WHO) menyebutkan hampir satu miliar anak berusia 2–17 tahun di dunia pernah mengalami kekerasan fisik, emosional, seksual, atau penelantaran setiap tahunnya. 

Sementara di Indonesia, data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) melalui Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) menunjukkan ribuan kasus kekerasan terhadap anak masih dilaporkan setiap tahun, dengan kekerasan seksual dan kekerasan psikis menjadi jenis yang paling dominan.

Menurut WHO, kekerasan terhadap anak adalah segala bentuk perlakuan salah yang dapat berupa kekerasan fisik, emosional, seksual, penelantaran, maupun eksploitasi yang berpotensi membahayakan kesehatan, martabat, perkembangan, atau kelangsungan hidup anak.

Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menyebutkan bahwa anak adalah setiap orang yang belum berusia 18 tahun, termasuk yang masih berada dalam kandungan.

Oleh karena itu, setiap bentuk kekerasan terhadap anak merupakan pelanggaran hak asasi yang harus dicegah dan ditangani secara serius.

Mengenal Berbagai Bentuk Kekerasan pada Anak

Kekerasan terhadap anak atau child abuse tidak hanya terjadi pada keluarga dengan kondisi ekonomi rendah atau lingkungan yang bermasalah. Faktanya, kasus serupa juga ditemukan pada keluarga yang tampak harmonis dan berkecukupan.

1. Kekerasan Fisik

Kekerasan fisik merupakan tindakan yang menyebabkan cedera atau rasa sakit pada tubuh anak. Bentuknya bisa berupa memukul, menampar, menendang, mencubit, menjambak, mencekik, membenturkan kepala, menyundut rokok, hingga menyiram dengan air panas.

Akibat yang ditimbulkan tidak hanya berupa memar atau luka lecet. Dalam kasus yang lebih berat, korban dapat mengalami patah tulang, perdarahan internal, luka bakar serius, bahkan kematian.

Banyak pelaku berdalih tindakan tersebut dilakukan untuk mendisiplinkan anak. Padahal, penelitian menunjukkan hukuman fisik justru meningkatkan risiko trauma psikologis, gangguan perilaku, dan hubungan yang buruk antara anak dengan orang tua.

2. Kekerasan Psikologis atau Emosional

Jenis kekerasan ini sering kali tidak terlihat secara kasat mata, tetapi dampaknya dapat bertahan hingga dewasa.

Bentuk kekerasan emosional meliputi penghinaan, bentakan, ancaman, mempermalukan anak, memberi label negatif, hingga perundungan atau bullying. 

Anak yang terus-menerus menerima perlakuan tersebut berisiko kehilangan rasa percaya diri dan merasa dirinya tidak berharga.

Korban biasanya menunjukkan gejala seperti menarik diri dari lingkungan sosial, mudah cemas, sering menangis, takut berinteraksi dengan orang lain, hingga mengalami depresi.

3. Kekerasan Seksual dan Penelantaran

Kekerasan seksual mencakup segala aktivitas seksual yang melibatkan anak, baik kontak fisik maupun nonfisik. 

Contohnya memperlihatkan konten pornografi kepada anak, memaksa anak melakukan aktivitas seksual, hingga pelecehan dan pemerkosaan.

Selain itu, terdapat pula kekerasan sosial berupa penelantaran dan eksploitasi. Orang tua atau pengasuh yang tidak memenuhi kebutuhan dasar anak seperti pendidikan, kesehatan, nutrisi, dan kasih sayang juga termasuk melakukan kekerasan.

Contohnya adalah membiarkan anak putus sekolah, tidak memberikan perawatan medis saat sakit, atau memaksa anak bekerja demi keuntungan ekonomi keluarga.

Dampak Kekerasan Anak Tidak Hanya Terjadi Saat Ini

Para ahli menyebut dampak kekerasan terhadap anak dapat berlangsung hingga puluhan tahun setelah peristiwa terjadi.

Gangguan Emosi dan Mental

Korban kekerasan lebih rentan mengalami depresi, kecemasan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), gangguan tidur, hingga keinginan menyakiti diri sendiri.

Dalam artikel The Long-Term Impact of Child Abuse yang dipublikasikan oleh psikolog Gil (2018), disebutkan bahwa pengalaman kekerasan pada masa kecil dapat memengaruhi harga diri seseorang hingga dewasa.

Gangguan Perkembangan Otak

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Development and Psychopathology (Jedd et al., 2015) menemukan bahwa kekerasan pada masa kanak-kanak dapat mengubah konektivitas fungsi amigdala, bagian otak yang berperan dalam pengaturan emosi dan respons terhadap stres.

Temuan serupa juga diungkapkan oleh Holmens dalam Verywell Mind (2018), yang menjelaskan bahwa trauma masa kecil dapat memengaruhi perkembangan sistem saraf dan menurunkan fungsi kognitif tertentu.

Risiko Masalah Kesehatan Saat Dewasa

Menurut WHO dan berbagai penelitian internasional, korban kekerasan anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit kronis saat dewasa, seperti:

* Penyakit jantung koroner
* Stroke
* Diabetes
* Obesitas
* Asma
* Ketergantungan alkohol
* Penyalahgunaan narkoba

Bahkan sejumlah penelitian menunjukkan korban kekerasan masa kecil memiliki risiko lebih tinggi melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan individu yang tidak pernah mengalami kekerasan.

Cara Mencegah dan Menangani Kekerasan pada Anak

Pencegahan kekerasan harus dimulai dari lingkungan terdekat anak, yaitu keluarga.

Orang tua perlu memahami bahwa disiplin tidak identik dengan hukuman fisik atau bentakan. Pendekatan komunikasi yang positif, pemberian contoh perilaku yang baik, serta pengelolaan emosi orang tua menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang aman.

Sekolah juga memiliki peran strategis dengan memperkuat pendidikan karakter dan mencegah praktik perundungan. 

Sementara itu, masyarakat perlu berani melaporkan jika menemukan dugaan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekitar.

Apabila anak telah menjadi korban kekerasan, pendampingan psikologis perlu segera diberikan. Konseling dan terapi dapat membantu anak memulihkan trauma serta mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius.

Sebaliknya, orang tua atau pengasuh yang merasa sulit mengendalikan emosi juga disarankan mencari bantuan profesional agar pola kekerasan tidak terus berulang.

Kekerasan terhadap anak bukan hanya masalah keluarga, tetapi persoalan sosial yang menentukan kualitas generasi masa depan. 

Semakin dini kekerasan dikenali dan dihentikan, semakin besar peluang anak untuk tumbuh menjadi individu yang sehat, percaya diri, dan produktif. Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama yang tidak bisa ditunda. (udn)
 

 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Harga Pangan Hari Ini 17 Juni 2026: Cabai Rawit Rp73.000 per Kilogram hingga Telur Ayam Rp29.550 per Kilogram

Harga Pangan Hari Ini 17 Juni 2026: Cabai Rawit Rp73.000 per Kilogram hingga Telur Ayam Rp29.550 per Kilogram

Inilah harga pangan hari ini 17 Juni 2026 dilansir dari data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia.
Kronologi Pria Lecehkan Anjing di Jakarta Utara Terungkap, Datang Sendirian ke Toko Hewan hingga Kepergok Karyawan

Kronologi Pria Lecehkan Anjing di Jakarta Utara Terungkap, Datang Sendirian ke Toko Hewan hingga Kepergok Karyawan

Kronologi pria diduga melecehkan anjing di sebuah toko hewan peliharaan di Penjaringan, Jakarta Utara, akhirnya terungkap. 
Cara Nonton Argentina vs Aljazair di Piala Dunia 2026, Lionel Messi Cs Main

Cara Nonton Argentina vs Aljazair di Piala Dunia 2026, Lionel Messi Cs Main

Berikut cara nonton live streaming Argentina vs Aljazair di laga perdana Grup J Piala Dunia 2026 pada Rabu (17/6/2026) pukul 08.00 WIB.
BMKG Prakirakan Kota-kota Besar di Pulau Jawa Bakal Diselimuti Awan

BMKG Prakirakan Kota-kota Besar di Pulau Jawa Bakal Diselimuti Awan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta, Serang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya bakal diselimuti awan pada Rabu.
Pria yang Lakukan Pelecehan Seksual terhadap Anjing di Jakarta Utara Ditangkap, Ada Hasil Visum Hewan

Pria yang Lakukan Pelecehan Seksual terhadap Anjing di Jakarta Utara Ditangkap, Ada Hasil Visum Hewan

Pria berinisial OL (24) yang melakukan pelecehan seksual terhadap anjing di toko hewan peliharaan di Penjaringan, Jakarta Utara, pada Senin (1/6/2026) akhirnya ditangkap.
Disebut Sindir Sarwendah, Kuasa Hukum Ruben Onsu Ungkap Alasan di Balik Unggahan 200 Juta vs Waktu Bersama Anak

Disebut Sindir Sarwendah, Kuasa Hukum Ruben Onsu Ungkap Alasan di Balik Unggahan 200 Juta vs Waktu Bersama Anak

Kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, buka suara soal unggahan kontroversial 200 juta vs waktu bersama anak yang disebut sindir Sarwendah. 

Trending

Siapa Yakuza Maneges yang Menyegel Ponpes di Malang?

Siapa Yakuza Maneges yang Menyegel Ponpes di Malang?

Media sosial beberapa waktu lalu dihebohkan dengan kabar, adanya pondok pesantren (Ponpes) di Malang, Jawa Timur disegel organisasi bernama Yakuza Maneges
Bepotensi Tembus Rp400 Triliun, Wakaf Dinilai Dapat Jadi Kekuatan Ekonomi BAru Indonesia

Bepotensi Tembus Rp400 Triliun, Wakaf Dinilai Dapat Jadi Kekuatan Ekonomi BAru Indonesia

Pemerintah melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 571 Tahun 2026 resmi menetapkan Bulan Wakaf Nasional.
Hasil Piala Dunia 2026: Erling Haaland Bersinar, Norwegia Hajar Irak

Hasil Piala Dunia 2026: Erling Haaland Bersinar, Norwegia Hajar Irak

Timnas Norwegia meraih kemenangan meyakinkan atas Irak di Piala Dunia 2026. Erling Haaland pun menjadi bintang dalam pertandingan kali ini.
Masih Ingat Herve Renard? Eks Pelatih Arab yang Pernah Merepotkan Timnas Indonesia Kini Dapat Misi Berat di Piala Dunia

Masih Ingat Herve Renard? Eks Pelatih Arab yang Pernah Merepotkan Timnas Indonesia Kini Dapat Misi Berat di Piala Dunia

Nama Herve Renard bukanlah sosok asing bagi penggemar Timnas Indonesia. Eks pelatih Arab Saudi kini dapat tugas berat untuk selamatkan Tunisia di Piala Dunia.
Waspada, Pinjol Ilegal Makin Merajalela! Kenali Bahaya, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya Sebelum Jadi Korban

Waspada, Pinjol Ilegal Makin Merajalela! Kenali Bahaya, Ciri-Ciri, dan Cara Menghindarinya Sebelum Jadi Korban

Pinjol ilegal masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia. Kenali bahaya, ciri-ciri, serta cara menghindari pinjaman online ilegal agar terhindar dari teror, kebocoran
Sulteng Dihantam Gempa Bumi Dahsyat, Seorang Warga Dilaporkan Meninggal Dunia

Sulteng Dihantam Gempa Bumi Dahsyat, Seorang Warga Dilaporkan Meninggal Dunia

Gempa bumi berkekuatan 6,7 magnitudo melanda wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Selasa (16/6/2026).
Kebijakan Era Prabowo-Gibran Dinilai Langkah Perubahan Tata Kelola Negara Menuju Kemajuan

Kebijakan Era Prabowo-Gibran Dinilai Langkah Perubahan Tata Kelola Negara Menuju Kemajuan

Kebijakan yang dijalankan oleh pemerintahan era Presiden RI, Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka menuai respons positif.
Selengkapnya

Viral