WHO: Manusia Rata-rata Hidup hingga Usia 73, Mengapa Hanya 63 Tahun yang Benar-benar Sehat?
- ANTARA (Pexels)
Jakarta, tvOnenews.com - Harapan hidup masyarakat dunia terus meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Namun, usia yang lebih panjang ternyata belum tentu diikuti dengan kondisi kesehatan yang tetap prima. Kondisi inilah yang membuat konsep healthy longevity atau hidup sehat lebih lama mulai menjadi perhatian di dunia kesehatan.
Data World Health Organization (WHO) tahun 2019 menunjukkan rata-rata harapan hidup manusia mencapai sekitar 73 tahun. Meski demikian, rata-rata seseorang hanya menikmati sekitar 63 tahun dalam kondisi sehat. Artinya, terdapat selisih sekitar satu dekade ketika seseorang berpotensi mengalami penurunan kesehatan atau menghadapi penyakit kronis maupun penyakit kritis.
Kondisi tersebut mendorong semakin banyak layanan kesehatan yang berfokus pada upaya pencegahan, bukan hanya pengobatan. Pendekatan ini menitikberatkan pada deteksi dini risiko penyakit, pemantauan kondisi tubuh secara menyeluruh, hingga perubahan gaya hidup yang lebih sehat.
Salah satu konsep yang kini mulai banyak diperkenalkan adalah usia biologis (biological age). Berbeda dengan usia kronologis yang dihitung berdasarkan tanggal lahir, usia biologis menggambarkan kondisi fisiologis tubuh seseorang yang dapat dipengaruhi oleh pola makan, aktivitas fisik, kualitas tidur, tingkat stres, hingga faktor metabolisme.
Melalui pemahaman terhadap usia biologis, seseorang diharapkan dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih dini sehingga dapat mengambil langkah yang tepat untuk memperlambat proses penuaan dan menekan risiko penyakit di masa mendatang.
Presiden Direktur AIA, Harsya Prasetyo, mengatakan meningkatnya angka harapan hidup perlu diimbangi dengan kualitas hidup yang lebih baik.
“Seiring meningkatnya harapan hidup masyarakat, tantangan terbesar adalah memastikan tahun-tahun tersebut dijalani dalam kondisi sehat dan produktif. Melalui AIA Healthy Longevity, kami ingin membantu nasabah memahami kondisi tubuh mereka secara lebih mendalam dan mengambil langkah proaktif untuk menjaga kesehatan sejak dini," ujar Harsya Prasetyo, dalam keterangannya, dikutip Kamis (9/7/2026).
Program tersebut didukung oleh Chi Longevity™, sebuah klinik yang menerapkan pendekatan berbasis bukti ilmiah. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, meliputi kondisi fisik, laboratorium, fungsi metabolik, hingga kemampuan kognitif. Hasil pemeriksaan kemudian dianalisis oleh tim multidisiplin yang terdiri atas dokter, ahli gizi, dan pelatih kesehatan sebelum disusun rekomendasi gaya hidup yang dipersonalisasi.
Pendekatan seperti ini mencerminkan perubahan tren layanan kesehatan yang kini lebih menitikberatkan pada preventive and proactive healthcare. Artinya, masyarakat tidak lagi menunggu hingga penyakit muncul, melainkan berupaya mengenali faktor risiko sejak awal agar dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup.
Selain pemeriksaan kesehatan, peserta juga memperoleh pendampingan (health coaching) secara berkala untuk membantu menerapkan rekomendasi yang telah disusun. Pendampingan ini dinilai penting karena perubahan gaya hidup umumnya membutuhkan komitmen jangka panjang agar memberikan hasil yang optimal. (cmi)
Load more