Penertiban Tambang Ilegal Jadi Katalis Produksi dan Kinerja TINS
- istimewa - antaranews
Jakarta, tvOnenews.com - Penertiban tambang timah ilegal berpotensi menjadi katalis bagi PT Timah Tbk (TINS) untuk meningkatkan produksi. Aktivitas pertambangan ilegal selama ini menjadi salah satu tantangan bagi produsen resmi dan membuat sebagian pasokan timah berada di luar rantai pasok resmi.
Reuters pernah melaporkan, Pemerintah Indonesia menargetkan penutupan sekitar 1.000 tambang timah ilegal di Bangka Belitung. Presiden Prabowo Subianto memperkirakan, sektor shadow atau pertambangan timah di luar sistem resmi dapat mencapai sekitar 80% dari total produksi timah di Bangka Belitung.
Sementara itu, Indonesian Tin Exporters Association memperkirakan hingga 12.000 ton timah dapat diekspor secara ilegal setiap tahun.
Besarnya aktivitas tambang ilegal tersebut menjadi persoalan bagi TINS. Reuters mencatat manajemen TINS sebelumnya menyebut persaingan dengan penambang ilegal sebagai salah satu faktor yang menekan produksi. Produksi bijih timah TINS pada semester I 2025 turun 32% secara tahunan menjadi 6.997 ton.
Penertiban tambang ilegal menjadi salah satu katalis positif bagi TINS. Ketika aktivitas ilegal ditekan, pasokan bijih yang sebelumnya berada di jalur informal berpeluang kembali masuk ke rantai pasok resmi.
Kondisi ini dapat membuka ruang bagi TINS untuk meningkatkan perolehan bijih, produksi dan volume penjualan. Ini adalah dampak positif dari komitmen pemerintah melalui instruksi Presiden Prabowo untuk mengamankan cadangan strategis nasional.
Momentum pemulihan produksi TINS sudah terlihat pada semester I 2026. Produksi bijih timah mencapai 12.232 ton Sn, naik sekitar 75% dari 6.997 ton Sn pada semester I 2025. Produksi logam timah meningkat menjadi 10.865 metrik ton, sedangkan penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, melonjak sekitar 85% dari 5.933 metrik ton.
Kenaikan volume tersebut turut mendorong kinerja keuangan. Pendapatan TINS mencapai Rp10,42 triliun pada semester I 2026, naik 147% dari Rp4,22 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih melonjak sekitar 805% menjadi Rp2,71 triliun dari Rp300 miliar.
Realisasi laba tersebut telah mencapai sekitar 169% dari target laba bersih TINS sepanjang 2026 sebesar Rp1,61 triliun.
Kinerja perseroan juga ditopang harga timah yang tinggi. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) pada semester I 2026 mencapai US$50.319 per metrik ton, naik 56,7% dari US$32.116 per metrik ton pada semester I 2025.
Load more