Pekrembangan Teknologi AI Mengubah Cara Berkarya, Bukan Menggantikan Kreativitas Manusia: Dari Ide hingga Layar Lebar
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Perkembangan teknologi membuat cara manusia berkarya terus berubah. Jika sebelumnya proses kreatif sangat bergantung pada keterampilan teknis dan perangkat produksi, kini kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membuka kemungkinan baru untuk mengembangkan ide, mengolah visual, hingga mempercepat sejumlah tahapan produksi.
Perubahan tersebut tidak selalu berarti teknologi mengambil alih peran manusia. Justru, AI dapat menjadi alat untuk membantu kreator mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan dalam waktu yang lebih singkat. Sebuah ide yang sebelumnya membutuhkan proses panjang untuk divisualisasikan kini dapat diuji melalui berbagai pendekatan sebelum kreator menentukan bentuk akhir karyanya.
Fenomena ini menjadi bagian dari perkembangan industri kreatif Indonesia yang semakin beragam. Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia juga menaruh perhatian terhadap potensi teknologi dalam memperkuat sektor tersebut.
Pada 2024, ekonomi kreatif disebut berkontribusi lebih dari Rp1.500 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Perkembangan AI pun dinilai dapat membuka peluang inovasi dan pertumbuhan di berbagai subsektor ekonomi kreatif.
AI Membuka Ruang Eksplorasi Baru bagi Kreator
Dalam proses kreatif, salah satu manfaat teknologi AI adalah membantu memperluas tahap eksplorasi. Kreator dapat mengembangkan gagasan awal, mencari referensi, mencoba pendekatan visual, hingga melakukan berbagai iterasi sebelum masuk ke tahap produksi.
Perubahan ini membuat proses menciptakan karya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghasilkan produk akhir, tetapi juga kemampuan mengarahkan teknologi agar sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan.
Perspektif tersebut terlihat dalam pembahasan mengenai pemanfaatan AI dalam industri film dan konten. Aktor, misalnya, dapat menggunakan teknologi untuk membantu proses persiapan karakter dengan mencari referensi dan mengeksplorasi berbagai pendekatan.
Aktor Lukman Sardi menilai teknologi dapat memberikan lebih banyak ruang bagi aktor untuk mempersiapkan karakter.
“Teknologi bisa membantu aktor mendapatkan lebih banyak referensi, memahami latar belakang karakter, hingga mengeksplorasi berbagai pendekatan sebelum masuk ke dalam sebuah adegan. Dengan proses persiapan yang lebih efisien, aktor punya lebih banyak ruang untuk fokus pada bagaimana karakter tersebut diinterpretasikan dan dihidupkan,” terang Lukman.
Sementara itu, sineas Mouly Surya melihat manfaat AI dari sisi pengembangan produksi. Menurutnya, teknologi dapat membantu tim mengeksplorasi ide sebelum memasuki proses produksi.
“Teknologi bisa membantu kita mengeksplorasi ide lebih awal, mencari referensi, memvisualisasikan sebuah konsep, hingga mencoba berbagai arah kreatif sebelum masuk ke produksi. Ketika sejumlah proses dapat dilakukan dengan lebih efisien, tim punya lebih banyak waktu untuk fokus pada visi besar karya dan keputusan-keputusan kreatif yang menentukan hasil akhirnya,” tambah Mouly.
Kreativitas Manusia Tetap Menjadi Penentu
Meski AI mampu membantu mempercepat berbagai pekerjaan, penggunaan teknologi tersebut tetap membutuhkan arah kreatif manusia. Algoritma dapat membantu menghasilkan alternatif, tetapi keputusan mengenai cerita, pesan, karakter, rasa, dan konteks sebuah karya tetap bergantung pada kreatornya.
Gustav Anandhita melihat AI sebagai sarana untuk memperluas kemungkinan tersebut. Teknologi memungkinkan kreator melakukan percobaan lebih cepat sehingga lebih banyak ide dapat diuji.
“AI memberi kreator lebih banyak ruang untuk bereksperimen—mulai dari mengembangkan ide, mencoba berbagai pendekatan visual, hingga melakukan iterasi dengan lebih cepat. Efisiensi ini memungkinkan kita untuk mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan dan membawa sebuah ide lebih jauh, tanpa kehilangan arah kreatif yang ingin kita bangun,” tutup Gustav.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara AI dan kreativitas tidak harus ditempatkan sebagai persaingan antara manusia dan mesin. Dalam praktiknya, AI lebih tepat dipahami sebagai perangkat pendukung yang dapat membantu pekerjaan tertentu, sementara manusia tetap menentukan tujuan dan karakter karya.
Penggunaan AI juga membawa kebutuhan baru mengenai transparansi dan tanggung jawab. Ketika teknologi generatif semakin mudah digunakan, kreator perlu memahami bagaimana sebuah karya dibuat, termasuk penggunaan materi dan teknologi yang menyertainya.
Karena itu, literasi AI menjadi semakin penting bagi pekerja kreatif. Kemampuan menggunakan teknologi tidak cukup hanya pada aspek teknis, tetapi juga mencakup pemahaman mengenai etika, orisinalitas, hak cipta, serta keputusan kreatif.
AI Content Fest 2026 Tampilkan 10 Karya di Layar Lebar
Perubahan cara berkarya tersebut kemudian terlihat dalam AI Content Fest 2026 yang digelar CapCut. Festival dan kompetisi film pendek berskala nasional ini mengusung tema “Small Stories. Big Screen. One Nation” dan menampilkan 10 karya kreator dari berbagai daerah Indonesia di layar lebar CGV Grand Indonesia (ScreenX), Jakarta.
Festival tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81. Para kreator mengangkat cerita mengenai identitas dan budaya, kehidupan sehari-hari, pengalaman, hingga harapan tentang Indonesia dengan memanfaatkan berbagai teknologi penyuntingan, termasuk fitur berbasis AI.
Sepuluh karya tersebut kemudian mendapatkan penilaian dan tanggapan langsung dari lima pelaku industri kreatif, yakni Angga Dwimas Sasongko, Mouly Surya, Upie Guava, Dinda Prasetyo, dan Gustav Anandhita. Para finalis mendapatkan masukan mengenai ide, visual, hingga cara menyampaikan cerita.
Festival ini juga memberikan penghargaan dalam delapan kategori, yakni Student Awards, Most Popular AI Microfilm, Special Selection Award, Best Story, Best Visual, Jury's Special Mention, Next Icon Award, dan Best AI Micro Film.
- ist
Selain film pendek, pemanfaatan AI turut diperlihatkan melalui kolaborasi dengan musisi Raim Laode dalam pembuatan video musik berbasis AI untuk single “Dunia Yang Nanti”. Karya tersebut ditayangkan pada acara puncak dan diikuti sesi berbagi mengenai proses kreatif di balik pembuatannya.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi mulai masuk ke berbagai tahap produksi kreatif. Namun, perkembangan AI tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap manusia di balik karya.
Justru, ketika teknologi semakin mampu membantu proses teknis, nilai seorang kreator semakin ditentukan oleh kemampuannya menemukan gagasan, memahami konteks, menentukan arah cerita, dan mengambil keputusan kreatif.
Pada akhirnya, AI dapat memperluas kemungkinan berkarya, tetapi manusia tetap menjadi pihak yang menentukan karya itu ingin berbicara tentang apa. (udn)
Load more