Industri Arsitektur Tak Lagi Sekadar Soal Desain, Kolaborasi Jadi Kunci di Tengah Perubahan Properti
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Industri arsitektur dan konstruksi di berbagai negara sedang menghadapi perubahan besar. Proyek bangunan kini melibatkan semakin banyak pihak, sementara kebutuhan terhadap efisiensi, teknologi digital, pengelolaan data, dan pembangunan berkelanjutan terus meningkat.
World Economic Forum (WEF) bahkan menyebut kolaborasi sebagai salah satu faktor penting dalam transformasi digital sektor konstruksi global. Kemitraan antara penyedia teknologi, kontraktor, supplier, dan pemangku kepentingan dinilai dapat mempercepat pengembangan solusi baru.
Persoalannya bukan hanya jumlah pihak yang terlibat, tetapi bagaimana mereka dapat bekerja dengan informasi dan tujuan yang sama.
Studi Autodesk terhadap 3.503 pemimpin dan profesional konstruksi dari 27 negara menunjukkan bahwa sebuah proyek konstruksi rata-rata melibatkan 42 kolaborator eksternal sejak tahap desain hingga serah terima. Namun, hanya 38 persen responden yang menilai kemampuan berbagi data di perusahaannya sudah kuat.
Di saat yang sama, tuntutan terhadap bangunan yang lebih berkelanjutan juga membuat batas antara arsitek, developer, kontraktor, produsen material, dan pemilik bangunan semakin tipis.
McKinsey mencatat bahwa penerapan konsep circularity di lingkungan binaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak dalam satu rantai nilai, mulai dari arsitek dan desainer hingga kontraktor, distributor, produsen material, operator, pemilik, dan investor.
Kolaborasi Jadi Tantangan Baru Industri
Gambaran tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan arsitektur semakin sulit dipisahkan dari ekosistem industri yang lebih luas. Desain sebuah bangunan harus berhadapan dengan persoalan biaya, fungsi, teknologi, material, kebutuhan pengguna, hingga tuntutan keberlanjutan.
McKinsey sebelumnya juga mencatat bahwa sektor architecture, engineering and construction (AEC) secara historis termasuk lambat dalam mengadopsi teknologi digital.
Namun, kebutuhan infrastruktur, keterbatasan tenaga terampil, serta tuntutan terhadap transparansi dan integrasi data ikut mendorong perubahan. Salah satu persoalan yang muncul adalah fragmentasi teknologi dan informasi antarorganisasi, sehingga kolaborasi menjadi semakin penting.
Kondisi tersebut membuat hubungan antara berbagai pelaku industri tidak lagi sekadar pelengkap proyek. Pertemuan antara arsitek, developer, kontraktor, konsultan, supplier, dan mitra teknologi dapat menjadi ruang untuk bertukar pengalaman sekaligus mencari bentuk kerja sama baru.
Konteks inilah yang terlihat dalam agenda “Connecting Future Collaboration” yang berlangsung di Lausanne Ballroom, Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Selasa (22/9/2026). Acara tersebut mempertemukan sejumlah pelaku industri arsitektur, properti, dan konstruksi, termasuk arsitek, developer, konsultan, kontraktor, supplier, klien, serta strategic partner.
Dari Commercial Building hingga Jaringan Developer
Salah satu pembahasan yang muncul dalam pertemuan tersebut berkaitan dengan pengalaman menangani proyek commercial building.
“Kita dikenal sebagai konsultan arsitek spesialis. Dalam setiap perkenalan kami menyebut Architect Indomegah sebagai konsultan arsitek spesialis di Commercial building. Dari 278 SPK yang kita peroleh kepercayaan untuk menjadi konsultan arsitek; 250-nya itu fokus pada jenis dan fungsi Commercial building,” jelas Dr. Ir. Henry Kusnadi, M.T.
Jenis bangunan yang dimaksud mencakup shopping mall, apartemen, office, dan hotel. Pengalaman tersebut membentuk pendekatan yang tidak hanya mempertimbangkan estetika, tetapi juga fungsi dan kebutuhan bisnis bangunan.
“Kenapa begitu? Ya karena kami disebut oleh pimpinan developer; bahwa saya bukan hanya menjadi konsultan arsitek, bukan dengan desain yang indah secara estetika tapi juga fungsional dan optimal. Kami di Indomegah dikenal selalu membuat desain bangunan; dari upaya mencari sesuatu yang berbeda dari yang lain. Dikenal karena memiliki yang disebut sebagai commercial thinking,” imbuhnya.
Relasi berulang dengan developer juga menjadi bagian dari pengalaman tersebut. Henry mencontohkan Candra Tambayong dari Group Graha Mas yang disebut telah memberikan tujuh proyek, mulai dari shopping mall hingga apartemen.
Pengalaman itu kemudian berkembang ke jenis bangunan lain. Pada 2008 hingga 2013 pihaknya mulai menangani residential high rise, hotel, dan office tower.
Regenerasi dan Peluang Baru di Industri
Selain hubungan antarpelaku bisnis, pembahasan mengenai masa depan industri juga berkaitan dengan regenerasi tenaga arsitektur. Generasi muda akan menjadi bagian penting dari perkembangan profesi tersebut.
“Hari ini kita menggelar ajang Architect Indomegah Silver Synergy: Connecting Future Collaboration, juga ingin berbagi kepada generasi Z anak muda. Ujungnya sebenarnya nanti mereka yang akan berkiprah di dunia arsitek,” ujarnya.
Ia juga menyebut anak keduanya yang setelah menyelesaikan pendidikan arsitektur kini bekerja di kantornya. Sejumlah mantan pekerja yang kini membuka konsultan sendiri turut diundang dalam pertemuan tersebut.
Jaringan profesional yang terbentuk selama bertahun-tahun dapat menjadi modal untuk memasuki tahap berikutnya.
“Mencapai usia 25 tahun merupakan sebuah tonggak penting. Namun, bagi kami, ini bukan hanya tentang merayakan perjalanan yang telah dilalui. Ini adalah momentum untuk mengapresiasi semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan Indomegah sekaligus melihat ke depan terhadap berbagai peluang baru,” ujarnya.
“Kami percaya bahwa kolaborasi yang baik akan terus menjadi bagian penting dalam menciptakan peluang dan membangun masa depan industri yang lebih baik,” imbuhnya.
Pertemuan tersebut juga diisi peluncuran website terbaru dan pengumuman inisiatif kolaborasi baru. Sementara sesi dinner dan networking menjadi ruang bagi para peserta untuk bertemu dan membicarakan kemungkinan kerja sama berikutnya.
Di tengah pembicaraan tentang peluang baru tersebut, terdapat pencapaian lain yang menjadi penanda perjalanan biro tersebut. Hubexo Asia Awards 2026 menempatkannya dalam Top Ten Architect Indonesia. Penghargaan diterima pada 15 September 2026 di Hotel Raffles Jakarta.
Hubexo Asia Awards, yang sebelumnya dikenal sebagai BCI Asia Awards, mencakup tujuh negara Asia. Kategori Top 10 memberikan apresiasi kepada pengembang, arsitek, dan kontraktor berdasarkan nilai agregat proyek properti dalam satu tahun kalender terakhir, dengan aspek keberlanjutan seperti green building dan sustainable development turut diperhatikan.
General Manager Germany Brilliant, Yapto Wijaya, yang hadir dalam acara tersebut, mengatakan, “Kami mengucapkan selamat atas keberhasilan Indomegah meraih penghargaan Top Ten Arsitek Awards pada Hubexo Asia Awards 2026. Kami juga berharap Indomegah yang juga merayakan 25 tahun perjalanannya, tambah sukses.”
Pencapaian 2026 memiliki perjalanan yang cukup panjang. Ia menyebut pernah meraih Top 10 Arsitek Indonesia sebanyak 12 kali pada 2005–2013, kemudian kembali pada 2018. Pandemi Covid-19 pada 2020 turut berdampak pada kegiatan kantor dan efisiensi sumber daya manusia sebelum penghargaan tersebut kembali diraih pada 2026.
- ist
“Saya selalu merasakan bahwa penghargaan tersebut adalah bonus dari Tuhan. Hadiah dari Tuhan yang indah. Dulu karena memang karyanya terbangun. Jadi dari 2005 sampai 2013 kita terima 12 kali Top 10 Arsitek Indonesia,” katanya.
“Pada 2020, kita semua merasakan dampak yang luar biasa dari pandemi Covid yang melanda seluruh dunia. Kegiatan kantor dan SDM harus kami lakukan efisiensi dan perampingan; sampai kemudian pada tahun 2026 ini kita kembali mendapatkan penghargaan. Ini adalah hadiah dari Tuhan. Saya bersyukur kepada Tuhan karena kasih kita hadiah di pas 25 tahun,” lanjutnya.
Dengan demikian, pertemuan pada September 2026 tersebut bukan semata soal perayaan usia sebuah biro. Di tengah industri yang semakin membutuhkan integrasi antara desain, teknologi, bisnis, keberlanjutan, dan berbagai profesi, pengalaman 25 tahun serta jaringan proyek yang telah terbentuk menjadi konteks bagi upaya membuka tahap kolaborasi berikutnya. (udn)
Load more