Bukan Sekadar Label, Ini Alasan Halal Mulai Jadi Penentu Kepercayaan Konsumen pada Sebuah Brand
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Sertifikasi Halal Bukan Lagi Sekadar Tiket Masuk Pasar
Pandangan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Sholahudin Al Aiyub. Menurutnya, sertifikasi halal seharusnya menjadi titik awal bagi perusahaan untuk membangun hubungan jangka panjang dengan konsumennya.
“Sertifikasi halal semestinya tidak lagi dipandang sekadar standar kepatuhan atau ‘tiket masuk’ ke pasar, melainkan pondasi purpose-driven branding yang membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen dalam jangka panjang,” ujarnya.
Perubahan itu menjadi semakin penting di era AI. Teknologi memungkinkan brand membuat komunikasi yang lebih personal dan cepat, tetapi pada saat yang sama informasi mengenai produk juga semakin mudah diproduksi dan disebarkan. Dalam kondisi tersebut, rekam jejak dan konsistensi menjadi bagian penting dalam mempertahankan kepercayaan.
Sholahudin juga menyebut Indonesia berada di peringkat keempat dalam State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026. Ia mengatakan hingga pekan kedua September 2026 telah terbit 4,4 juta sertifikat halal yang mencakup 14,7 juta produk.
Sementara itu, Sekretaris Utama BPJPH Muhammad Aqil Irham melihat peningkatan kesadaran halal sebagai perubahan penting dalam perilaku pasar. Konsumen, khususnya generasi milenial dan Gen Z, semakin mempertimbangkan aspek halal bersama harga dan kualitas.
“Tren kesadaran halal semakin tinggi. Kalau tidak memenuhi maka akan ditinggalkan konsumen,” kata Aqil.
Ia juga mengingatkan pelaku usaha untuk mempersiapkan sertifikasi halal seiring semakin terbukanya pasar produk halal, termasuk masuknya produk dari berbagai negara.
Dari Label Halal ke Identitas Brand
Perubahan cara pandang tersebut membuat isu halal tidak hanya berkaitan dengan industri makanan dan minuman. Teuku Riefky Harsya, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, menyebut nilai halal telah berkembang ke fesyen, kosmetik dan berbagai produk gaya hidup.
Menurutnya, ekonomi kreatif dapat memberikan nilai tambah melalui kreativitas, desain dan storytelling.
“Di sinilah ekonomi kreatif memiliki peran besar, bagaimana kreativitas, storytelling, desain dan kekuatan jenama bisa membawa produk Indonesia naik kelas. Dari sekadar memenuhi standar menjadi produk yang dipercaya, diminati dan berdaya saing,” katanya.
Load more