Bukan Sekadar Chatbot, AI Mulai Buka Akses Pendidikan untuk 1.500 Pelajar di Wilayah 3T
- Ilustrasi
Dari Akses AI Menuju Pendidikan yang Lebih Personal
Skala penggunaan AI di dunia pendidikan menunjukkan bahwa teknologi ini kemungkinan akan menjadi bagian permanen dari proses belajar. Khan Academy, misalnya, mencatat **2 juta siswa, pendidik, dan orang tua menggunakan Khanmigo sepanjang tahun ajaran 2024-2025**. Hampir separuh pengguna Khanmigo pada periode tersebut merupakan guru yang menggunakan akses gratis di lebih dari 70 negara.
Di Arizona, Amerika Serikat, lebih dari 170.000 siswa atau sekitar 16 persen siswa sekolah negeri telah menggunakan layanan tutoring berbasis AI pada 2025. Pemerintah negara bagian tersebut sebelumnya mengalokasikan US$1,5 juta untuk membantu sekolah mengakses Khanmigo.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan AI sebagai pendamping belajar bukan lagi eksperimen kecil. Namun, pengalaman negara maju juga memberikan pelajaran penting bagi Indonesia: teknologi yang canggih tidak otomatis menciptakan pendidikan yang lebih baik.
AI perlu ditempatkan dalam ekosistem yang memperhatikan kemampuan siswa, kualitas materi, peran guru, keamanan data, literasi digital, serta kemampuan memahami informasi yang dihasilkan mesin.
Bahkan OECD menemukan bahwa kesempatan siswa untuk belajar mengevaluasi kualitas informasi yang dibuat AI belum terdistribusi secara merata.Â
Siswa dari latar belakang sosial-ekonomi yang lebih diuntungkan cenderung lebih sering mendapatkan kesempatan tersebut di sekolah. Ini menunjukkan potensi munculnya kesenjangan baru: bukan lagi sekadar siapa yang punya akses AI, tetapi siapa yang mampu menggunakan dan mengkritisi AI dengan benar.
Di titik inilah gagasan yang dibawa Fahriza menjadi relevan. Pendidikan berbasis AI tidak cukup berhenti pada penyediaan chatbot gratis atau aplikasi pembelajaran. Teknologi harus dihubungkan dengan kebutuhan lokal, komunitas, guru, serta mekanisme pembelajaran yang berkelanjutan.
Inti gagasannya adalah AI seharusnya bukan sekadar alat untuk membuat siswa mendapatkan jawaban lebih cepat, tetapi menjadi sarana memperluas kesempatan belajar yang personal dan berkualitas.Â
Akses pembelajaran gratis bagi lebih dari 1.500 pelajar di wilayah 3T menunjukkan arah tersebut: tantangan terbesar pendidikan berbasis AI bukan hanya membuat teknologinya semakin pintar, melainkan memastikan kecerdasan itu benar-benar sampai kepada siswa yang paling membutuhkan. (udn)
Load more