Tak Harus Kuliah ke Luar Negeri, Begini Cara Pendidikan Tinggi Indonesia Membawa Standar Global ke Dalam Negeri
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Salah satu bentuk pengalaman internasional yang ditawarkan melalui ekosistem tersebut adalah program *Double Degree*. Program ini memungkinkan mahasiswa menjalani pengalaman akademik sekaligus di universitas mitra di luar negeri.
Menurut Andreas, pengalaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesempatan memperoleh dua gelar. Interaksi dengan lingkungan akademik dan budaya berbeda juga dapat memperluas wawasan, jaringan, serta kemampuan beradaptasi.
Model semacam ini semakin relevan ketika mobilitas pendidikan menjadi bagian dari sistem pendidikan tinggi global. OECD sendiri mencatat bahwa mahasiswa internasional merupakan bagian penting dari mobilitas pendidikan tinggi dunia, meskipun definisi dan metode pencatatannya dapat berbeda antarnegara.
Dampaknya kemudian dapat dilihat dari perjalanan sejumlah alumni yang berkarier di berbagai sektor. Beberapa nama yang disebut antara lain Jonathan Wahyudi, Founder Innovision3D; Jovan Adiputra, CEO & Founder Jasasistem; Enrica Melissa, Application Engineer di Randstad Jepang; serta Hartarto Winata, Rebates Officer di Samsung Australia.
Pengalaman tersebut menggambarkan salah satu manfaat potensial pendidikan internasional: membuka ruang bagi lulusan untuk membangun karier tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga dalam lingkungan profesional global.
Pada akhirnya, menghadirkan pendidikan tinggi berstandar global di Indonesia tidak harus berarti meniru seluruh sistem negara maju atau memindahkan kampus luar negeri ke Indonesia.
Yang lebih penting adalah membangun akses terhadap standar pembelajaran internasional, kolaborasi akademik lintas negara, mobilitas mahasiswa, pengalaman multikultural, serta jaringan profesional global.
Tantangannya ke depan bukan sekadar seberapa banyak kerja sama internasional yang dimiliki sebuah kampus, tetapi seberapa nyata kesempatan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kompetensi mahasiswa dan kontribusi setelah mereka kembali ke masyarakat.
Dengan demikian, inti pendidikan global bukan lagi soal di mana mahasiswa belajar, melainkan seberapa luas dunia yang dapat mereka akses melalui proses belajar tersebut—dan bagaimana pengalaman global itu akhirnya digunakan untuk memberikan dampak bagi Indonesia. (udn)
Load more