Jakarta Makin Gerah, BMKG Ungkap Ancaman Cuaca Ekstrem dan Lonjakan Titik Panas di Sejumlah Wilayah
- Gambar ilustrasi AI / Gemini
tvOnenews.com - Keberagaman budaya Indonesia tumbuh dari hubungan erat masyarakat dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
Tradisi, bahasa, adat istiadat, seni, hingga pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi membentuk identitas bangsa sekaligus menjadi sumber kreativitas dan kebersamaan. Kekayaan tersebut juga mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dan alam.
Di tengah perkembangan zaman, perubahan kondisi lingkungan menjadi tantangan yang semakin nyata bagi masyarakat.
Suhu udara yang meningkat, berkurangnya ruang hijau, serta perubahan pola musim dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, mulai dari kegiatan ekonomi hingga keberlangsungan tradisi yang bergantung pada kondisi alam.
Karena itu, memahami perubahan cuaca bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan bagian dari upaya menjaga kualitas hidup dan lingkungan.
Belakangan ini, cuaca panas yang terasa menyengat di Jakarta menjadi salah satu gambaran tantangan tersebut. Meski suhu udara berada pada kisaran 33–35 derajat Celsius, udara tetap terasa gerah, bahkan setelah matahari terbenam.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena Urban Heat Island atau pulau panas perkotaan ikut memperparah kondisi tersebut.
Sementara itu, prakiraan cuaca periode 20–26 Oktober 2026 menunjukkan bahwa kondisi panas dan kering masih berpotensi berlangsung di berbagai wilayah Indonesia, disertai ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hujan lebat, serta angin kencang di sejumlah daerah.
Jakarta Makin Panas, Urban Heat Island Bikin Udara Tetap Gerah
Fenomena Urban Heat Island terjadi ketika suhu kawasan perkotaan lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya yang memiliki lebih banyak vegetasi. Padatnya bangunan, permukaan jalan beraspal, beton, serta aktivitas kendaraan membuat panas matahari terserap dan tersimpan lebih lama di lingkungan kota.
Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa karakteristik lingkungan perkotaan tersebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Jakarta terasa semakin panas. Minimnya ruang terbuka hijau dan pepohonan turut mengurangi kemampuan lingkungan dalam membantu menurunkan suhu udara.
Dampaknya tidak hanya dirasakan pada siang hari. Panas yang tersimpan pada bangunan dan permukaan jalan dapat dilepaskan secara perlahan setelah matahari terbenam sehingga suhu lingkungan tidak segera menurun. Kondisi inilah yang membuat udara malam hari tetap terasa pengap.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa panas yang terjadi bukan berarti Jakarta sedang mengalami gelombang panas atau heatwave seperti yang pernah melanda sejumlah negara subtropis. Kondisi tersebut merupakan hasil kombinasi karakteristik lingkungan perkotaan dan faktor cuaca.
Musim kemarau, minimnya tutupan awan, serta udara yang relatif kering turut meningkatkan pemanasan permukaan pada siang hari. Fenomena El Niño juga memengaruhi kondisi atmosfer yang mendukung berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Situasi ini memperlihatkan pentingnya penambahan ruang terbuka hijau, perlindungan pepohonan, dan penataan kawasan perkotaan yang lebih memperhatikan keseimbangan lingkungan.
Upaya tersebut menjadi bagian penting untuk mengurangi dampak panas di kota-kota dengan pembangunan yang semakin padat.
Suhu Mencapai 38,5 Derajat Celsius, Titik Panas Karhutla Melonjak
Berdasarkan laporan BMKG mengenai prakiraan cuaca sepekan periode 20–26 Oktober 2026, suhu maksimum di sejumlah wilayah Indonesia sempat mencapai angka tinggi pada pertengahan bulan ini.
Pada 17 Oktober 2026, suhu maksimum tercatat mencapai 38,5 derajat Celsius di Jawa Barat serta 38 derajat Celsius di Lampung dan Jawa Tengah. Sehari sebelumnya, Jawa Timur juga mencatat suhu maksimum hingga 38 derajat Celsius.
Kondisi panas dan kering tersebut berkaitan dengan minimnya tutupan awan akibat pengaruh fenomena El Niño yang sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Berkurangnya hujan dapat mempercepat pengeringan vegetasi dan meningkatkan kerentanan kawasan hutan maupun lahan terhadap kebakaran.
Ancaman tersebut terlihat dari perkembangan titik panas atau hotspot selama 16–19 Oktober 2026. Berdasarkan pemantauan pada 19 Oktober, jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah melonjak dari 157 menjadi 937 titik.
Kalimantan Barat meningkat dari 31 menjadi 231 titik, sedangkan Sumatera Selatan naik dari 19 menjadi 66 titik. Jawa Timur juga mengalami peningkatan dari 10 menjadi 36 titik.
Pada periode yang sama, sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Perkembangan tersebut menjadi sinyal perlunya kewaspadaan lebih tinggi, terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Meski kondisi kering diperkirakan masih mendominasi hingga beberapa dasarian mendatang, peluang hujan belum sepenuhnya hilang.
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Mixed Rossby-Gravity (MRG), bersama pertemuan serta perlambatan angin, masih dapat memicu pertumbuhan awan hujan.
Pada 16–18 Oktober 2026, hujan lebat hingga sangat lebat tercatat dengan curah hujan mencapai 105 milimeter per hari di Papua, 66 milimeter per hari di Sumatera Utara, dan 51 milimeter per hari di Kalimantan Tengah.
BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami curah hujan rendah hingga menengah, yakni 0–150 milimeter per dasarian, mulai dasarian III Oktober hingga dasarian II November 2026. Namun, kondisi umum yang kering tidak menutup kemungkinan terjadinya hujan signifikan dalam skala lokal. (udn)
Load more