Viral Emak-Emak Berebut Uang dari Atap Rumah, Warga Rela Panas-panasan demi Dapat Saweran
- Tangkapan layar instagram paisal.isal.129
Contoh tersebut menunjukkan bahwa praktik membagikan sesuatu dengan cara dilemparkan dari atas bangunan memang ditemukan di sejumlah acara masyarakat. Namun, lokasi dan konteksnya berbeda dari video yang diunggah @paisal.isal.129.
- Tangkapan layar instagram paisal.isal.129
Dari Pekalongan hingga Blora, Ada Tradisi Sebar Uang dan Hasil Bumi
Salah satu tradisi yang memiliki kemiripan dengan video viral tersebut adalah udik-udikan. Kebiasaan ini dikenal di sejumlah wilayah Jawa, termasuk Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Udik-udikan merupakan kegiatan membagikan atau menyebarkan uang kepada masyarakat. Tradisi ini biasanya dilakukan ketika seseorang atau keluarga sedang mengadakan hajatan, seperti pernikahan, khitanan, selesai membangun rumah, maupun setelah menunaikan ibadah haji.
Di Kabupaten Pekalongan, tradisi tersebut pernah menjadi perhatian setelah video warga berebut uang beredar di media sosial pada 2022. Peristiwa itu berlangsung di Desa Pakumbulan, Kecamatan Buaran, ketika seorang warga menggelar prosesi munggah molo, yakni menaikkan bagian atap rumah baru.
Dalam pemberitaan detikJateng, pemerhati budaya Pekalongan Muhammad Edi Yuliantoni menjelaskan bahwa udik-udikan merupakan bentuk saweran atau berbagi rezeki. Meski begitu, ia juga menyebut asal-usul tradisi tersebut belum memiliki penelitian yang memastikan sejarah kemunculannya.
Praktik serupa juga ditemukan di Jawa Timur. Bisnis.com mencatat udik-udikan masih dilakukan sebagian masyarakat ketika memiliki hajat tertentu. Dalam beberapa pelaksanaannya, uang pecahan disebarkan agar warga sekitar dapat ikut memperoleh bagian.
Sementara itu, istilah awur-awur juga memiliki rujukan tradisi lain di Desa Gedangdowo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Di daerah tersebut, awur-awur menjadi bagian dari ritual sedekah bumi yang digelar sebagai ungkapan syukur atas hasil panen.
Dilansir tvOne, warga membawa makanan dan hasil bumi untuk dikumpulkan sebelum prosesi saling melempar nasi atau sawuran dilakukan. Tradisi tersebut menjadi simbol kemurahan pangan dan harapan agar hasil bumi masyarakat tetap melimpah.
Perbedaan ini penting dicatat. Awur-awur di Blora berkaitan dengan sedekah bumi dan hasil panen, sedangkan udik-udikan lebih dekat dengan kebiasaan menyebarkan uang ketika seseorang mengadakan hajatan.
Load more