Ketika AI Bisa Mengerjakan Semua Tugas, tetapi Bisakah Menggantikan Kemampuan Berpikir Kritis?
- Gambar ilustrasi AI
tvOnenews.com - Kecerdasan buatan (AI) semakin mengubah cara mahasiswa belajar, mencari informasi, hingga menyelesaikan tugas perkuliahan.
Dengan beberapa instruksi, teknologi seperti ChatGPT mampu menyusun esai, menjawab pertanyaan, merangkum jurnal, bahkan membantu analisis dalam hitungan detik.
Namun, kemudahan tersebut memunculkan pertanyaan baru: apakah mahasiswa benar-benar memahami materi yang mereka kumpulkan atau sekadar menyalin jawaban dari AI tanpa melalui proses berpikir sendiri?
Persoalan ini menjadi tantangan bagi perguruan tinggi. Ketika AI mampu menghasilkan jawaban yang terlihat sistematis dan meyakinkan, tugas berupa esai, makalah, maupun rangkuman tidak lagi cukup untuk mengukur pemahaman seseorang.
Mahasiswa bisa memperoleh nilai baik tanpa benar-benar menguasai konsep yang dipelajari. Jika kebiasaan tersebut terus berlangsung, kemampuan menganalisis, mengevaluasi informasi, dan menyusun argumen secara mandiri berisiko tidak berkembang optimal.
Sejumlah penelitian internasional mulai menunjukkan pentingnya persoalan tersebut. Riset University of Pennsylvania yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) pada 2025 menemukan bahwa penggunaan AI tanpa panduan dapat meningkatkan hasil pengerjaan tugas, tetapi justru menghambat proses pembelajaran ketika teknologi tersebut tidak lagi tersedia.
Artinya, kemampuan menyelesaikan tugas dengan bantuan AI belum tentu mencerminkan kemampuan seseorang memahami materi secara mandiri.
Ketergantungan AI Bisa Mengubah Cara Mahasiswa Berpikir
Penelitian yang dilakukan peneliti University of Pennsylvania melibatkan hampir 1.000 siswa sekolah menengah di Turki melalui eksperimen penggunaan tutor berbasis GPT-4. Penelitian tersebut membandingkan siswa yang menggunakan ChatGPT biasa, tutor AI dengan panduan pembelajaran, dan kelompok yang tidak menggunakan AI.
Hasilnya menunjukkan bahwa akses GPT-4 meningkatkan nilai latihan matematika sebesar 48 persen. Sementara itu, kelompok yang menggunakan tutor AI dengan panduan khusus mengalami peningkatan hingga 127 persen.
Namun, hasil berbeda muncul ketika siswa harus mengerjakan ujian tanpa bantuan teknologi. Kelompok yang menggunakan ChatGPT biasa justru memperoleh hasil 17 persen lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak menggunakan AI.
Peneliti menemukan bahwa sebagian siswa cenderung menggunakan AI sebagai jalan pintas dengan meminta jawaban langsung, bukan memahami langkah penyelesaiannya. Sebaliknya, tutor AI yang dirancang untuk memberikan petunjuk dan mendorong siswa mencoba menjawab sendiri dapat mengurangi dampak negatif tersebut.
Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalannya bukan sekadar penggunaan AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut dimanfaatkan dalam proses belajar. AI dapat meningkatkan produktivitas, tetapi ketergantungan terhadap jawaban instan berpotensi mengurangi kesempatan seseorang melatih keterampilannya sendiri.
Penelitian lain dari Microsoft Research dan Carnegie Mellon University yang dipublikasikan dalam konferensi CHI 2025 juga mengangkat persoalan kemampuan berpikir kritis.
Survei terhadap 319 pekerja profesional dengan 936 contoh pengalaman penggunaan AI menemukan bahwa tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap hasil AI berkaitan dengan lebih rendahnya upaya berpikir kritis.
Riset tersebut menunjukkan bahwa pengguna tetap perlu memeriksa informasi, mengintegrasikan jawaban, dan mengevaluasi hasil yang diberikan teknologi.
Dengan kata lain, kemampuan berpikir kritis tidak hilang karena kehadiran AI, tetapi dapat kurang digunakan ketika seseorang terlalu mudah mempercayai hasilnya.
Mengapa Metode Penilaian di Kampus Perlu Berubah?
Tantangan penggunaan AI juga mulai terlihat dalam dunia pendidikan tinggi. OECD melalui laporan PISA 2025 menyoroti bahwa penggunaan chatbot AI untuk membantu tugas sekolah memiliki hubungan yang kompleks dengan capaian akademik.
Siswa yang tidak menggunakan chatbot untuk mengerjakan tugas tertentu cenderung memperoleh hasil sains lebih baik dibandingkan pengguna AI untuk keperluan tersebut di banyak negara. Namun, siswa yang menggunakan AI untuk membantu proses belajar secara rutin menunjukkan capaian yang relatif serupa dengan mereka yang tidak menggunakannya.
OECD juga menemukan bahwa siswa yang mendapatkan kesempatan belajar mengevaluasi kualitas informasi dari AI di sekolah cenderung memiliki capaian sains sedikit lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan pentingnya literasi AI, bukan sekadar memberikan akses terhadap teknologi.
Karena itu, metode penilaian yang hanya mengandalkan hasil akhir mulai perlu dievaluasi. Dosen dapat mengembangkan tugas berbasis studi kasus nyata, meminta mahasiswa menjelaskan proses penyelesaian, melakukan presentasi, hingga menguji pemahaman melalui diskusi langsung.
Pendekatan tersebut bukan bertujuan melarang penggunaan AI, melainkan memastikan mahasiswa tetap terlibat dalam proses pembelajaran. Mahasiswa perlu mampu menjelaskan alasan di balik jawaban, memeriksa kebenaran informasi, dan mempertanggungjawabkan hasil analisisnya.
AI-Resistant Assessment, Cara Baru Mengukur Kemampuan Mahasiswa
Tantangan tersebut turut menjadi perhatian Center for Education and Learning in Economics and Business (CELEB) FEB UI. Bersama alumni, lembaga ini menyelenggarakan workshop pemanfaatan Generative AI dan perancangan asesmen adaptif bagi 40 dosen dari Departemen Ilmu Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi di Kampus FEB UI, Depok.
Pelatihan tersebut didasarkan pada survei CELEB FEB UI. Sebanyak 88,5 persen dosen responden mengkhawatirkan menurunnya orisinalitas karya akademik mahasiswa, sedangkan 83,6 persen menilai penggunaan AI secara bebas berpotensi meningkatkan risiko plagiarisme.
Selain itu, 49,2 persen responden membutuhkan panduan untuk merancang tugas yang tidak dapat diselesaikan secara instan menggunakan AI.
Kebutuhan peningkatan kompetensi juga terlihat dari 75,4 persen dosen yang menginginkan pelatihan Prompt Engineering dan 85,2 persen yang membutuhkan dukungan dalam membuat bahan ajar berbasis AI. Perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan dosen dalam menjaga kualitas pembelajaran.
“Perkembangan Generative AI menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan nyata bagi dunia akademik. Melalui pelatihan ini, CELEB FEB UI ingin memastikan para dosen di Departemen Ilmu Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi tidak hanya mampu memanfaatkan AI secara teknis untuk efisiensi, tetapi juga mampu mengarahkannya secara pedagogis agar kualitas pembelajaran dan nilai-nilai kejujuran akademik tetap terjaga secara berkelanjutan,” ujar Kepala CELEB FEB UI, Dr. Dwi Nastiti Danarsari.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan adalah AI-Resistant Assessment. Metode ini menggeser penilaian dari sekadar melihat hasil pekerjaan menjadi evaluasi terhadap proses berpikir, analisis kasus kontekstual, refleksi, serta kemampuan mahasiswa menjelaskan pemahamannya secara langsung.
Instruktur workshop sekaligus pakar AI dan strategi digital, Dr. Achmad Istamar, menjelaskan bahwa penggunaan AI membutuhkan instruksi yang tepat dan dukungan sumber informasi tepercaya.
“Kunci utama pemanfaatan Generative AI dalam dunia pendidikan terletak pada formulasi instruksi (structured prompting) dan kemampuan mengaitkan AI dengan sumber informasi yang valid (grounded data). Dengan merancang asesmen yang berfokus pada penalaran kritis, refleksi, dan penerapan konsep, kita dapat memanfaatkan kekuatan AI untuk memperkaya pembelajaran tanpa mengorbankan kedalaman berpikir logis mahasiswa,” jelas Dr. Achmad Istamar.
- ist
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kontribusi alumni yang tergabung dalam YESS Foundation (Yayasan Ekonomi Sembilan Satu) sebagai bentuk pengabdian kepada almamater dan perwujudan misi organisasi untuk build for the future.
Masukan dari peserta juga membuka peluang pengembangan pelatihan lanjutan, mulai dari pembuatan media pembelajaran interaktif, pemanfaatan AI untuk riset akademik, hingga pengembangan materi sesuai kebutuhan masing-masing departemen.
Pada akhirnya, tantangan pendidikan di era AI bukan lagi tentang bagaimana menghindarkan mahasiswa dari teknologi, melainkan bagaimana memastikan mereka tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri.
AI dapat membantu mencari informasi, menyusun gagasan, dan mempercepat pekerjaan, tetapi kemampuan memahami masalah, memeriksa kebenaran, serta mempertanggungjawabkan keputusan tetap harus dimiliki manusia.
Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa cepat mahasiswa menghasilkan jawaban, tetapi juga dari seberapa dalam mereka memahami proses untuk mendapatkannya. (udn)
Load more