Jejak Perjalanan Panjang Nicolas Maduro: dari Sopir Bus, Presiden Venezuela, hingga Ditangkap AS
- ANTARA/Miraflores Palace/Handout via REUTERS/HP/djo
Jakarta, tvOnenews.com - Perjalanan politik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro Moros mencuri perhatian dunia internasional. Sorotan tersebut menyusul setelah ia ditangkap Amerika Serikat (AS).
AS melakukan serangan besar-besaran ke Venezuela pada Sabtu (3/1/2026). Tujuan Presiden AS, Donald Trump memperintahkan militer menggencarkan eskalasi ke ibu kota Venezula, Caracas, untuk menangkap Nicolas Maduro.
Serangan menyasar ke Venezuela hingga menangkap Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, merupakan Operasi Absolute Resolve dari AS. Hal ini menyusul kedua negara memiliki ketegangan selama berbulan-bulan.
Lewat unggahan di platform Truth Social, Donald Trump menjelaskan alasan militer AS melakukan operasi skala besar ke Caracas. Serangan itu menyusul kampanye panjang AS melawan ancaman narkoba, dampak masuknya jutaan migran Venezuela ke Amerika Latin, hingga narko-terorisme.
Saat diwawancarai New York Times, Trump memberikan pujian kepada pasukan militer AS. Keberhasilan tersebut buah dari perencanaan matang menangkap Maduro hingga akan mengambil alih negara Venezuela.
"Banyak perencanaan yang baik dan banyak pasukan dan orang-orang hebat," kata Donald Trump dikutip tvOnenews.com, Selasa (6/1/2026).
Perjalanan Karier Politik Nicolas Maduro
- ANTARA/Anadolu/py
Dilansir dari Britannica, Nicolás Maduro merupakan Presiden Venezuela lahir di Caracas, Venezuela pada 23 November 1962. Maduro besar dari kondisi keluarga ekonomi menengah di Caracas.
Maduro disebut tidak menyelesaikan pendidikan tingkat tingginya. Ia hanya tamat sekolah menengah.
Namun di usia dininya tidak menutup ketertarikan pada politik sayap kiri. Kebetulan tempat ayahnya berada dalam lingkungan yang terlibat politik sayap kiri dan gerakan buruh.
Maduro memilih ikut pelatihan sebagai organisator di Kuba selama satu tahun, tepatnya pada 1986. Hal ini menyusul kegagalannya dalam meraih gelar formal lanjutan.
Maduro memutuskan kembali ke Venezuela setelah satu tahun di Kuba. Ia menyempatkan berprofesi sebagai sopir bus. Kala itu, ia bekerja di lingkungan sistem metro Caracas.
Dari sinilah, Maduro aktif dan menjadi perwakilan di serikat pekerja pengemudi. Kebetulan sang ayah juga memiliki jejak aktif di buruh.
Karena aktif di serikat buruh, Maduro semakin menunjukkan vokal terhadap isu kelas pekerja. Ia pun berhasil naik pangkat dipercaya memimpin serikat buruh.
Titik Awal Karier Politik
Awal mula karier politik Maduro saat Hugo Chávez memimpin gerakan Revolusi Bolivarian pada 1990-an. Upaya perwira militer tersebut untuk melakukan kudeta gagal sehingga dipenjara pada tahun 1992.
Chávez merupakan sosok figur sentral politik kiri di Venezuela. Maduro dan Cilia Flores menjadi sosok loyalis Utama rezim Chávez.
Maduro dan Cilia Flores melakukan kampanye dengan motif pembebasan Chávez. Upaya tersebut berakhir terjadi pada tahun 1994.
Sejak itulah Maduro terpilih sebagai anggota Majelis Konstituen Nasional pada 1999. Di tahun 2000, Maduro mulai menjalankan tugas di majelis terendah legislatif di Venezuela, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang berubah menjadi Majelis Nasional unikameral.
Peran itu mengantarkan Maduro menjabat presiden di lembaga tersebut dari tahun 2005 hingga 2006. Hal ini yang membuat Maduro terpilih menjadi Menteri Luar Negeri (Menlu) Venezuela dari 2006-2013.
Di jabatan Menlu Venezuela, peran Maduro sangat berpengaruh pada diplomasi Venezuela. Menariknya, Maduro berperan meningkatkan integrasi sosial hingga ekonomi negara-negara di Amerika Latin agar mengurangi kepercayaan terhadap AS pada saat itu.
Maduro juga membawa Venezuela memiliki hubungan persahabatan dengan para pemimpin dunia terlibat kontroversi, antara lain Robert Mugabe (Zimbabwe), Muammad al-Qaddafi (Libya), dan Mahmoud Ahmadinejad (Iran).
Karier Presiden Venezuela
Titik awal Maduro bisa menjabat Presiden Venezuela saat kesehatan Chávez semakin memburuk. Pada 2011, Chávez diumumkan tengah mengidap kanker.
Namun penyakit kanker tidak menghalangi Chávez memenangkan Pemilihan Presiden pada Oktober 2012. Kebetulan lawan calon Presiden Venezuela saat itu yakni Henrique Capriles Radonski.
Chávez kebetulan berpasangan dengan Maduro. Hal inilah yang membawa Maduro sebagai Wakil Presiden. Sementara Cilia Flores, istri Maduro menjabat jaksa agung Venezuela yang membuat publik berpandangan keduanya memiliki pengaruh besar di Venezuela.
Maduro menjadi pemimpin de facto di Venezuela setelah masa pemulihan pasca operasi Chávez di Kuba tidak diketahui publik. Apalagi selama masa tersebut, menjadikan pelantikan Chávez sebagai Presiden ditunda yang semulanya dijadwalkan pada Januari 2013.
Awal mula Maduro menjadi Presiden setelah Chávez wafat pada 5 Maret 2013. Maduro mengambil peran fungsi pemerintahan sementara.
Seiring berjalannya waktu, Maduro mencalonkan diri dalam Pemilihan Khusus pada 14 April. Lawannya saat itu adalah Capriles yang membuat Pemilu berlangsung sangat ketat.
Berdasarkan laporan dari AP News, selisih suara antara Maduro dan Capriles sangat tipis. Maduro memperoleh suara sebesar 50.62 persen, sementara Capriles meraih 49 persen.
Maduro resmi dilantik sebagai Presiden Venezuela pada 19 April. Ia menjabat peran tersebut berkat diusung oleh Partai Sosialis Bersatu.
Di masa kepemimpinannya, Venezuela sedang dalam kondisi carut-marut. Pada paruh pertama tahun 2014, warga kelas menengah di Venezuela melakukan protes terhadap masa pemerintahannya meski melanjutkan dukungannya terhadap Maduro.
Pada saat itu, ekonomi Venezuela di masa kepemimpinan Maduro berada dalam kondisi kesulitan besar. Venezuela mengalami hiperinflasi secara ekstrem akibat penurunan harga minyak dunia.
Faktor ekonomi Venezuela memburuk juga karena penurunan produksi industri. Selain itu, ekspor non-minyak juga menurun sehingga pemerintahan Maduro dinilai gagal berinvestasi di tengah lonjakan inflasi.
Merujuk dari AFP, keruntuhan perekonomian nasional hingga mengalami lonjakan tekanan politik membuat kepercayaan publik terhadap pemerintahan Maduro semakin menurun. 7,7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya dan menjadi migran ke negara lain.
Ketegangan Nicolas Maduro dan AS Berujung Ditangkap hingga Dipenjara
- Istimewa
Ketegangan antara Maduro dan AS akibat berselisih dengan Donald Trump sejak 2020. Kebetulan Trump menjabat sebagai Presiden AS saat itu.
AS di bawah kepemimpinan pertama Trump menetapkan dakwa kepada Maduro. Motif dakwaan terhadap Presiden Venezuela tersebut atas dugaan narko-terorisme.
AS menduga adanya perdagangan kokain dengan skala besar. Selain itu, adanya dugaan kepemilikan senjata api dan alat penghancur di Venezuela.
Ketegangan semakin intens sejak Maduro didakwa di Distrik Selatan New York. Kala itu ia dituding telah bekerja sama dengan kartel raksasa, antara lain Tren de Aragua dan Sinaloa.
Perselisihan antara keduanya menimbulkan eskalasi ketegangan besar-besaran pada November 2025. Nicolas Maduro dituding telah menjalankan Cartel de los Soles dan Tren de Aragua yang ditetapkan sebagai organisasi teroris asal Venezuela oleh Pemerintah AS.
Dilansir dari BBC, ketegangan antara Maduro dan Trump juga dengan motif masuknya ratusan ribu migran Venezuela ke AS. Bahkan ada jutaan warga Venezuela ke negara-negara di Amerika Latin.
Penyebab banyaknya migran merebak ke Amerika Latin menyusul pengaruh dari hiperinflasi perekonomian Venezuela yang terjadi sejak 2013. Hal ini membuat jutaan warga meninggalkan Venezuela.
Puncak ketegangan berlangsung pada Sabtu, 3 Januari 2026 dini hari. AS menggencarkan operasi serangan militer dengan skala besar ke Caracas.
Target dalam operasi tersebut menyasar ke fasilitas militer Fuerte Tiuna. Bahkan pasukan elit AS, Delta Force diumumkan telah menangkap Nicolas Maduro dan Cilia Flores.
Terkini, menurut laporan dari New York Times, Nicolas Maduro ditahan di Metropolitan Detention Center (MDC) Brooklyn. MDC Brooklyn merupakan fasilitas penahanan federal besar di kawasan Sunset Park di Brooklyn, New York.
(hap)
Load more